Koordinasi itu jadi krusial. Soalnya, kawasan Bromo bukan cuma area konservasi, tapi juga ruang wisata yang langsung bersentuhan dengan pergerakan pengunjung, kendaraan operasional, dan petugas lapangan. Saat api membesar, keputusan soal akses bisa berdampak ke banyak pihak dalam waktu singkat.
Riwayat kebakaran Agustus masih segar
Kebakaran terbaru ini datang tak lama setelah Bromo mengalami kejadian serupa pada Agustus 2026. Saat itu, api terus membesar dan membakar vegetasi tanaman yang terdiri dari mentigen, akasia, semak belukar, hingga cemara gunung.
Ribuan petugas gabungan berjibaku sejak Selasa, 3 Agustus hingga api berhasil dipadamkan pada 15 Agustus 2026. Luasan area yang terbakar tercatat mencapai 1.121,66 hektare.
Operasi pemadaman kemudian dinyatakan ditutup pada Selasa, 18 Agustus 2026, setelah tim gabungan dari Satuan Tugas (Satgas) melakukan evaluasi menyeluruh wilayah TNBTS. Area Bromo yang sebelumnya ditutup lalu dibuka kembali pada 20 Agustus 2026.
Itu sebabnya, kabar kebakaran di Savana Pengol langsung menyedot perhatian. Publik masih mengingat betapa lama penanganan kebakaran sebelumnya berlangsung, dan betapa cepat api bisa menjalar ketika angin ikut bermain.
Untuk sementara, BB-TNBTS menyebut status akses dan kegiatan wisata Gunung Bromo masih menunggu hasil koordinasi pimpinan di lokasi kebakaran. Belum ada informasi resmi mengenai perubahan status akses yang bisa disampaikan ke publik.
“Status akses dan kegiatan wisata Gunung Bromo, saat ini pimpinan masih berada di lokasi kebakaran dan proses koordinasi masih berlangsung. Untuk sementara belum ada informasi terkait perubahan status akses yang dapat kami sampaikan,” tukas Endrip.
Dengan kondisi seperti ini, perhatian kini tertuju pada dua hal yang bergerak bersamaan: upaya pemadaman di lapangan dan keputusan berikutnya soal jalur wisata Bromo. Selama api belum benar-benar terkendali, semua mata tetap mengarah ke Savana Pengol.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.