BATU — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Butak dan Kawinajang terus meluas. Perum Perhutani memperkirakan area terdampak mencapai sekitar 700 hektare. Sejak pertama kali terdeteksi pada Jumat 4 September lalu, api belum sepenuhnya padam hingga Minggu 13 September.
Angin kencang menjadi musuh utama tim pemadaman. Medan terjal, akses terbatas, dan kabut asap tebal memperumit operasi penyelamatan di lapangan. Berton SP Panjaitan, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, menyebut hambatan itu mencegah tim dari melakukan water bombing secara optimal.
Situasi sama dialami di Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo. Kebakaran pertama terdeteksi pada Kamis 10 September pukul 16.30 WIB di Savana Pengol, lalu meluas ke Gunung Kursi. Pada Sabtu 12 September, api kembali muncul dan angin kencang mendorong api hingga Pos Jemplang sekitar pukul 16.20 WIB.
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menutup seluruh akses wisata sejak Sabtu hingga batas waktu yang akan diumumkan kemudian.
Melibatkan Ratusan Personel
Penanganan karhutla di Gunung Butak melibatkan tim satuan tugas gabungan dari berbagai institusi. BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Kabupaten Malang, BPBD Kota Batu, TNI/Polri, Perhutani, Masyarakat Peduli Api, dan komunitas Paguyuban Ojek Gunung Butak dikerahkan untuk memadamkan dan memantau api.
Hingga Minggu 13 September, tim masih memantau keberadaan empat titik api di wilayah Blitar dan satu titik api di Pujon Kidul. Operasi darat terus dilakukan di lokasi yang dapat dijangkau, namun pembatasan cuaca menghambat operasi udara.
Tidak hanya pemadaman langsung, tim juga fokus pada observasi udara untuk mengendalikan titik api dan mencegah penyebaran ke wilayah pemukiman maupun zona konservasi.
Dampak Luas Terhadap Masyarakat
Luas area terbakar di Gunung Butak mencapai kurang lebih 478 hektare berdasarkan data terbaru, sementara wilayah Kawinajang mencakup bagian dari total 700 hektare yang dilaporkan Perhutani.
Kebakaran berskala besar ini mengancam infrastruktur lokal dan sumber daya alam yang menjadi penopang ekonomi masyarakat sekitar. Penutupan wisata Bromo juga berdampak pada sektor pariwisata dan ribuan pedagang yang bergantung pada kunjungan wisatawan.
BNPB menegaskan bahwa penanganan karhutla di kedua wilayah pegunungan akan terus dioptimalkan. Fokus utama adalah mencegah perluasan area terbakar lebih lanjut sambil menjaga keselamatan tim penyelamat dan masyarakat luas.
Tantangan Alam Masih Dominan
Pada Senin 14 September, tim di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Blok Pengol, Desa Ngadas, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, fokus pada pemadaman sisa-sisa bara api di wilayah Jarak Ijo. Kabut asap tebal dan medan sulit dijangkau tetap menjadi hambatan signifikan dalam setiap operasi pemadam.
Cuaca ekstrem bukan satu-satunya tantangan. Kompleksitas geografis kedua gunung dan keterbatasan akses jalan membuat mobilisasi peralatan dan personel menjadi lambat. Tim harus mengandalkan rute darat yang sempit dan berbahaya, sementara helicopter water bombing tertunda karena kondisi angin yang masih belum memungkinkan penerbangan aman.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.