Pemenang dan Pecundang di Tengah Badai
Di tengah tantangan ini, beberapa negara diproyeksikan memiliki prospek lebih baik. Eksportir energi seperti Arab Saudi dan Brazil, serta negara-negara yang terintegrasi erat dengan sektor teknologi (Amerika Serikat, Korea Selatan, Taiwan) memiliki outlook yang lebih cerah.
Sebaliknya, importir komoditas tanpa dukungan sektor AI menghadapi prospek suram. Proyeksi pertumbuhan untuk kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah dipangkas 2,0 poin menjadi 1,9%. Iran menjadi salah satu negara yang paling terdampak, dengan revisi pertumbuhan 2026 dipotong 7,2 poin menjadi -6,1%.
China juga melihat proyeksi pertumbuhannya dipangkas menjadi 4,4% untuk 2026. India menjadi pengecualian, dengan proyeksi pertumbuhan naik menjadi 6,5% berkat stimulus domestik. Amerika Serikat diproyeksikan tumbuh 2,2%, Euro Area 0,8%, dan Jepang 0,7%.
Implikasi ke Ekonomi Indonesia
Ekonomi Indonesia masih diproyeksikan tumbuh di kisaran 4,8-5,1%, namun tidak luput dari tekanan global. Harga minyak $94 per barrel akan menjadi beban berat bagi anggaran impor dan subsidi. Perlambatan ekspor komoditas ke China juga berpotensi menahan laju pertumbuhan.
Bank Dunia juga memperingatkan bahwa negara berkembang secara umum diperkirakan mencapai titik terendah pasca-pandemi dengan pertumbuhan 3,6% tahun ini. Untuk menghadapi tekanan ini, Indonesia disarankan untuk menjaga cadangan devisa, mempercepat transisi energi, dan berhati-hati dalam pengambilan utang dolar jangka pendek.
Pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok, 12-18 Oktober mendatang, diharapkan akan memberikan pembaruan lebih lanjut mengenai proyeksi dan strategi menghadapi tantangan ekonomi global ini.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.