WASHINGTON, JOURNALARTA.COM — Proyeksi terbaru per 10 September 2026 menunjukkan ekonomi dunia berada dalam fase rapuh, meski menunjukkan ketahanan yang tak terduga di tengah berbagai gejolak. Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan global menjadi hanya 3,0% untuk tahun 2026, turun dari rata-rata 3,5% pada tahun 2024 dan 2025.
Angka ini lebih rendah dari perkiraan April sebelumnya sebesar 3,1%. Sementara itu, Bank Dunia memberikan pandangan yang lebih pesimis dengan proyeksi pertumbuhan dasar 2,5%, dan bisa anjlok hingga 1,3% jika eskalasi perang di Timur Tengah merembet ke pasar keuangan global.
Inflasi dan Harga Minyak Meroket
Laporan IMF juga menyoroti lonjakan inflasi. Organisasi tersebut menaikkan proyeksi inflasi utama 2026 sebesar 0,3 persentase poin menjadi 4,7% dari proyeksi April. Kenaikan ini dipicu oleh harga energi yang kini 25% lebih tinggi dibandingkan sebelum perang di Timur Tengah dimulai pada 28 Februari lalu.
Harga minyak mentah Brent rata-rata diperkirakan mencapai $94 per barrel sepanjang tahun 2026, naik 36% dari tahun 2025. Jika terjadi eskalasi lebih lanjut, skenario terburuk bisa mendorong harga minyak ke $115 per barrel, yang akan memicu inflasi global hingga 4,4%.
Kondisi ini menimbulkan tekanan signifikan bagi negara importir energi seperti Indonesia. Beban impor energi akan meningkat, subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) berisiko jebol, dan nilai tukar Rupiah berpotensi tertekan.
Empat Risiko Utama Mengancam Pasar
Meskipun ekonomi global menunjukkan ketahanan di tengah enam bulan perang di Timur Tengah, IMF memperingatkan empat risiko utama yang bisa mengguncang pasar:
- Gejolak Timur Tengah: Harga minyak dan gas tetap tinggi, dengan Selat Hormuz belum kembali normal. Asumsi terbaik, Selat Hormuz baru mulai dibuka kembali pada pertengahan Juli 2026 dan mencapai kondisi pra-perang pada Maret 2027.
- Utang Global Menggunung: Tekanan utang global terus meningkat. Proses disinflasi pasca krisis biaya hidup 2022 juga stagnan.
- Fragmentasi Perdagangan: Pertumbuhan perdagangan global diperkirakan melambat tajam menjadi 3,5% pada 2026 dari 5% pada 2025. Ini disebabkan oleh praktik front-loading sebelum pengenaan tarif AS dan gelombang proteksionisme global.
- Koreksi Ekspektasi AI: Adanya potensi koreksi terhadap ekspektasi pasar akan kecerdasan buatan (AI). Sektor teknologi telah menjadi penopang pertumbuhan ekonomi. Jika gelembung AI pecah, dampaknya terhadap pasar keuangan global bisa sangat besar.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.