PALU — Kebakaran hutan dan lahan di Sulawesi Tengah berhasil dipadamkan setelah membakar sekitar 30 hektare vegetasi. Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, Damkar, TNI, Polri, dan masyarakat setempat bekerja bersama untuk mengendalikan api yang menyebar dengan cepat.
Api menyala di Dusun Gandalari, Desa Korondoda, Kecamatan Tojo, Kabupaten Tojo Una-Una pada Minggu pukul 20.00 WITA. Warga pertama kali menyadari ada kebakaran setelah melihat kepulan asap dan percikan api dari area hutan lahan tersebut.
“Api telah berhasil dipadamkan dan saat ini situasi aman terkendali,” kata Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sulawesi Tengah Asbudianto di Palu, Kamis.
Angin Kencang Mempercepat Penyebaran Api
Dari awal mulanya, titik api hanya terlihat di satu area. Namun kondisi cuaca yang tidak mendukung—terutama angin kencang—membuat api merambat cepat ke vegetasi dan semak belukar di sekitarnya. Dalam waktu singkat, luas kebakaran sudah mencapai puluhan hektare.
Upaya pemadaman awal menggunakan suplai air dari tim respons cepat. Namun kecepatan penyebaran api membuat strategi harus disesuaikan. Tim kemudian menggerakkan mobil tangki BPBD dan tangki punggung untuk mempercepat proses pemadaman.
“Tim melakukan suplai air dan upaya pemadaman secara bersamaan,” jelas Asbudianto, menambahkan bahwa penanganan libatkan berbagai unsur guna memaksimalkan efisiensi.
Pemantauan Lanjutan untuk Antisipasi Titik Api Baru
Setelah api padam, tim tidak langsung meninggalkan lokasi. Pemantauan intensif dilakukan di perbatasan Desa Korondoda dan Desa Lemoro untuk memastikan tidak ada titik api tersembunyi yang berpotensi menyalah lagi. Langkah ini penting mengingat vegetasi kering masih banyak tersisa di area terdampak.
Asbudianto menekankan bahwa kesiapsiagaan adalah kunci. Antisipasi terhadap kemungkinan munculnya kembali titik api akan terus dilakukan, khususnya di area dengan kondisi vegetasi yang masih rentan terbakar.
Imbauan Mencegah Kebakaran Meluas
Dalam kesempatan itu, Kepala Pelaksana BPBD mengimbau masyarakat Tojo Una-Una untuk meningkatkan kewaspadaan. Larangan membuka lahan dengan cara bakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, dan segera melaporkan jika menemukan titik api atau kepulan asap menjadi pesan utama.
“Peran serta masyarakat sangat diperlukan dalam mencegah kebakaran meluas, terutama pada kondisi cuaca yang dapat meningkatkan risiko karhutla,” ujar Asbudianto.
Peristiwa di Tojo Una-Una ini selaras dengan fokus nasional pemerintah pada penegakan hukum terkait kebakaran hutan. Kementerian Kehutanan tengah menangani 46 kasus kebakaran yang melibatkan 15 korporasi dan 31 perorangan.
Dari jumlah tersebut, izin usaha 26 perusahaan telah dibekukan sebagai sanksi administratif, dan penanganan dapat dilanjutkan ke proses pidana jika ditemukan indikasi tindak pidana.
Upaya kolaboratif seperti yang terbukti di Tojo Una-Una menunjukkan pentingnya kerja sama lintas institusi dan partisipasi aktif masyarakat dalam mengendalikan bencana kebakaran di musim kering.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.