JAMBI — Pertarungan melawan api di kawasan gambut Londerang kian intens. Sebanyak 142 personel gabungan dan satu helikopter water bombing kini diterjunkan membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Hutan Lindung Gambut (HLG) Londerang, Jambi.
Operasi pemadaman ini melibatkan kolaborasi lintas institusi yang kompleks. Regu Pemadam Kebakaran PT Wirakarya Sakti (PT WKS), Manggala Agni, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, tim Water Management, hingga unsur pendukung lapangan lainnya bekerja bersama sejak kebakaran pertama terpantau pada 27 Agustus 2026.
Dari Api Pertama hingga Kembali Menyala
Kebakaran pertama di HLG Londerang berhasil dipadamkan setelah enam hari upaya intensif, dengan status tuntas dinyatakan pada 2 September 2026. Namun, pertengahan September, api muncul lagi di bagian lain kawasan yang sama, memaksa tim kembali melakukan operasi pemadaman dan pembasahan.
Hingga 17 September, penanganan terus berjalan dengan pengerahan sarana pemadaman yang masif. PT WKS, sebagai unit usaha APP Group, memimpin koordinasi dengan menurunkan 12 unit alat berat untuk pembuatan dan penguatan sekat serta pembersihan kanal—strategi krusial di lahan gambut yang mudah merembes.
Arsenal Pemadaman Darat dan Udara
Operasi darat diperkuat dengan 24 unit pompa pemadam berbagai jenis, sembilan kendaraan operasional roda empat, 15 unit sepeda motor, sekitar 120 set Sambunesia untuk pendinginan lahan gambut, serta ratusan roll selang pemadam. Dukungan udara datang dari satu unit helikopter water bombing dan dua unit drone untuk pemantauan real-time.
Tim Water Management secara paralel melakukan pengelolaan sumber air untuk mendukung pemadaman dan pembasahan di seluruh area operasi. Kombinasi pendekatan darat-udara ini dirancang terpadu dengan mempertimbangkan arah angin, karakteristik lahan, akses lokasi, dan ketersediaan sumber air di lapangan.
“Karakteristik lahan gambut membutuhkan penanganan yang intensif dan terkoordinasi, karena itu penguatan operasi darat, pengelolaan sumber air, penggunaan alat berat, pemantauan udara hingga water bombing dilakukan secara terpadu dan terus disesuaikan dengan kondisi aktual di lapangan,” jelas Kepala Humas PT WKS, Taufik Qurochman, di Jambi pada Jumat 17 September.
Kolaborasi Sebagai Kunci Efektivitas
Dampak utama operasi ini bagi masyarakat Jambi adalah meminimalkan penyebaran asap dan kerusakan ekosistem gambut yang sudah lama terancam. Lahan gambut menyimpan karbon besar; kebakarannya bukan sekadar kehilangan hutan tetapi risiko emisi karbon masif yang berdampak pada kualitas udara regional.
Taufik menekankan bahwa kolaborasi lintas unsur menjadi fondasi penanganan yang efektif. “Penanganan karhutla di HLG Londerang merupakan kerja bersama. Berbagai unsur berkolaborasi dalam pemadaman, pembasahan, pengelolaan sumber air hingga pemantauan kondisi areal,” katanya.
PT WKS sendiri mengalokasikan personel dan berbagai sarana operasional sesuai kebutuhan di lapangan. Namun prioritas bersama tetap menjadi fokus utama: menangani kebakaran seefektif mungkin sambil menjaga keselamatan seluruh personel yang terlibat.
Koordinasi antartim dilakukan berkelanjutan untuk memastikan pembagian tugas dan penggunaan sumber daya berjalan sesuai dengan dinamika operasi real-time. “Yang jadi prioritas bersama bagaimana kebakaran dapat ditangani seefektif mungkin sekaligus menjaga keselamatan seluruh personel.
Kolaborasi seluruh unsur menjadi penting agar setiap sumber daya yang tersedia dapat digunakan secara optimal sesuai perkembangan kondisi di lapangan,” ujar Taufik.
Upaya berkelanjutan ini menunjukkan bahwa penanganan karhutla di kawasan gambut bukan operasi sekali jalan, melainkan dinamika yang terus berkembang seiring perubahan kondisi lapangan dan cuaca lokal.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.