Sabtu, 19 September 2026 WIB
BREAKING
DAERAH

Personel gabungan helikopter water bombing padamkan lahan gambut Jambi

Helikopter water bombing menyemprotkan air untuk padamkan kebakaran hutan gambut di Londerang Jambi, dengan asap api di bawah
Operasi water bombing dari udara menjadi bagian krusial dalam penanganan karhutla di lahan gambut Londerang yang sulit dijangkau darat (ilustrasi: Shutterstock). (Ilustrasi: AI)

JAMBI — Seratus empat puluh dua personel gabungan dan satu unit helikopter water bombing dikerahkan untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Hutan Lindung Gambut (HLG) Londerang. Operasi yang berlangsung sejak akhir Agustus ini melibatkan koordinasi ketat antara berbagai institusi, dari perusahaan hingga lembaga pemerintah.

Kepala Humas PT Wirakarya Sakti (PT WKS), Taufik Qurochman, mengatakan hingga 17 September penanganan karhutla di Londerang didukung helikopter water bombing, alat berat, pompa pemadam, drone, serta kendaraan operasional. PT WKS merupakan unit usaha APP Group yang memiliki tanggung jawab pengelolaan kawasan gambut tersebut.

Kebakaran pertama kali terdeteksi pada 27 Agustus 2026. Setelah enam hari operasi pemadaman intensif, api berhasil dipadamkan pada 2 September. Namun, pertengahan September kebakaran menyala kembali di bagian lain kawasan HLG Londerang, memaksa tim gabungan melancarkan upaya pemadaman dan pembasahan ulang.

Kolaborasi Multi-Institusi di Lapangan

Operasi penanganan karhutla melibatkan Regu Pemadam Kebakaran (RPK) PT WKS, Manggala Agni, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, serta tim Water Management. Keterlibatan banyak unsur ini diperlukan mengingat karakteristik unik lahan gambut yang membutuhkan penanganan berbeda dari hutan biasa.

Taufik Qurochman menekankan kolaborasi merupakan inti dari kesuksesan operasi ini. “Penanganan karhutla di HLG Londerang merupakan kerja bersama. Berbagai unsur berkolaborasi dalam pemadaman, pembasahan, pengelolaan sumber air hingga pemantauan kondisi areal,” ujarnya kepada Antara di Jambi, Jumat (17/9).

Lahan gambut memiliki karakteristik yang kompleks—api dapat menyebar melalui saluran bawah tanah dan sulit diakses dengan metode konvensional. Itulah sebabnya operasi darat dan udara dijalankan secara terpadu, dengan mempertimbangkan arah angin, akses lokasi, dan ketersediaan sumber air.

Peralatan Berat dan Strategi Penanganan

PT WKS mengerahkan 12 unit alat berat untuk membantu pembuatan sekat api dan pembersihan kanal. Dukungan operasi darat mencakup 24 unit pompa pemadam berbagai jenis, sembilan kendaraan operasional roda empat, 15 unit sepeda motor, sekitar 120 set Sambunesia untuk pendinginan, serta ratusan rol selang pemadam.

Dari udara, operasi diperkuat dua unit drone untuk pemantauan real-time dan satu helikopter water bombing yang melakukan bombing dari ketinggian. Tim Water Management juga mengelola sumber air untuk mendukung pemadaman dan pembasahan berkelanjutan di area yang ditangani.

“Karakteristik lahan gambut membutuhkan penanganan yang intensif dan terkoordinasi. Penguatan operasi darat, pengelolaan sumber air, penggunaan alat berat, pemantauan udara hingga water bombing dilakukan secara terpadu dan terus disesuaikan dengan kondisi aktual di lapangan,” kata Taufik.

Prioritas Keselamatan dan Efektivitas Operasi

Meski peralatan canggih tersedia, keselamatan personel tetap menjadi prioritas utama. Koordinasi antar-tim dilakukan terus-menerus untuk memastikan pembagian tugas dan penggunaan sumber daya sesuai dengan kebutuhan operasi lapangan.

Tantangan yang dihadapi bukan hanya ekstinguishing (memadamkan api) tetapi juga suppression berkelanjutan—menjaga lahan tetap lembab agar tidak kembali terbakar. Kondisi cuaca, topografi, dan aksesibilitas lokasi mempengaruhi setiap keputusan taktis yang diambil di lapangan.

“Prioritas bersama adalah bagaimana kebakaran dapat ditangani seefektif mungkin sekaligus menjaga keselamatan seluruh personel. Kolaborasi seluruh unsur penting agar setiap sumber daya dapat digunakan secara optimal,” terang Taufik.

Upaya penanganan karhutla di HLG Londerang menunjukkan kompleksitas manajemen bencana di kawasan gambut Indonesia. Dengan terus meningkatnya risiko kebakaran di musim kemarau, kolaborasi multi-stakeholder dan peralatan modern menjadi kunci untuk melindungi ekosistem gambut yang vital bagi iklim global.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Cek Penerima Bansos PKH & BPNT Kemensos 19 September 2026: Cara Cek NIK KTP Online