Kamis, 24 September 2026 WIB
BREAKING
DAERAH

Masyarakat adat Malind kirim 14,5 ton kopra Merauke ke Surabaya

Tumpukan kopra kering siap pengiriman dari kampung adat Merauke ke Surabaya
Pengiriman perdana 14,5 ton kopra dari masyarakat adat Malind (Distrik Semangga, Kabupaten Merauke) ke Surabaya pada 24 Agustus 2026 menunjukkan revitalisasi ekonomi berbasis kelapa lokal. (. (Ilustrasi: AI)

MERAUKE — Pengiriman pertama kopra seberat 14,5 ton dari tiga kampung adat ke Surabaya menjadi titik balik ekonomi masyarakat Malind di Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Upaya enam bulan mengumpulkan dan mengolah kelapa akhirnya membuahkan hasil nyata pada 24 Agustus 2026.

Kopra berasal dari Kampung Matara, Waninggap Nanggo, dan Urumb. Semuanya terkumpul melalui Koperasi Yora Mekhande Jaya dengan pendampingan Yayasan EcoNusa.

Kelapa jadi andalan saat laut tak menentu

Moses Ramsis Boi, Program Associate Yayasan EcoNusa, melihat potensi besar di balik inisiatif ini. “Komoditas kelapa kini menjadi tumpuan ekonomi yang sangat krusial bagi masyarakat adat Malind di ketiga kampung tersebut, terutama ketika hasil tangkapan laut dan rawa sedang tidak menentu,” katanya pada Rabu.

Kelapa bukan hal baru bagi kampung-kampung itu. Produksi kopra pernah berjalan di Kampung Matara antara 2000–2010, namun ditinggalkan karena harga tidak stabil. Masyarakat kemudian menjual kelapa utuh ke pengepul dengan harga yang jauh lebih rendah.

Revitalisasi dimulai awal 2026. Hasilnya mencolok: pengolah kopra bertambah dari lima menjadi 25 orang dalam hitungan bulan. Dari Januari hingga April, sekitar 15 ton kopra terkumpul, meski setelah penimbangan ulang jadi 12.461 kilogram karena masih mengandung kadar air tinggi.

Pemuda tukar buruh truk dengan pengolahan kopra

Dampak sosial juga nyata. Sumarni Kaize, Ketua UMKM Sinai Kampung Urumb, mencatat perubahan pola kerja pemuda setempat. “Mereka mulai kembali merawat dusun kelapa, memanen hasil bumi sendiri, hingga aktif menanam bibit pohon kelapa baru,” ujarnya.

Beberapa pemuda yang sebelumnya bekerja sebagai buruh truk dan penggali pasir pantai kini beralih menjadi pengolah kopra. Pekerjaan dengan pendapatan lebih stabil dan berkelanjutan menjadi daya tarik utama.

Jamina Rineke Rumbewas, Ketua Koperasi Yora Mekhande Jaya, optimis potensi masih jauh lebih besar. Di Kampung Matara saja, terdapat sekitar 6.000 pohon kelapa di sekitar wilayah kampung, belum termasuk yang tersebar di dusun-dusun masyarakat.

Hambatan akses dan logistik masih menghadang

Kendala nyata tetap mengancam momentum ini. Akses pasar yang terbatas, fluktuasi harga global, standar kualitas kopra, biaya logistik tinggi, dan keterbatasan modal tunai menjadi tantangan utama bagi petani dan koperasi.

Meski demikian, Yayasan EcoNusa terus mendampingi. Koperasi Yora Mekhande Jaya membeli hasil petani secara langsung, membantu peningkatan kualitas, dan menyediakan gudang penampungan agar tidak ada produksi yang terbuang.

Pengumpulan tahap kedua tahun 2026 sudah dimulai sejak awal September dengan target pengiriman lebih besar. Yayasan juga sedang menjajaki pengembangan komoditas kopra ke kampung-kampung lain di Kabupaten Merauke untuk memperluas basis produksi dan memperkuat rantai nilai.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda