TASIKMALAYA, JOURNALARTA.COM – Ceu Epon, seorang perempuan paruh baya berusia 50 tahun yang dikenal kerap mengemis di Pasar Cikurubuk, Pasar Pancasila, Pasar Singaparna, hingga Jalan Otto Iskandar Dinata depan SMPN 1 Tasikmalaya, membuat heboh jagat maya. Ia yang selama ini dikenal memohon belas kasihan dengan alasan kesulitan ekonomi, bahkan mengaku tidak makan beberapa hari, kini terekam sedang memborong perhiasan emas senilai puluhan juta rupiah secara tunai.
Video yang viral sejak 26-27 September 2026 ini memperlihatkan Ceu Epon berdiri di sebuah toko perhiasan mewah. Ia tampak mengeluarkan segepok uang tunai pecahan Rp100 ribu dan Rp50 ribu dari dalam kantong plastik hitam, lalu menyerahkannya kepada pegawai toko. Aksi Ceu Epon yang santai membeli emas kontan ini terekam dan disebarkan luas, memicu perdebatan sengit jutaan warganet di berbagai platform media sosial.
Video ini telah viral di Instagram @rmolid dan @tv.koma, Facebook Suara.com, serta YouTube Bukamata.id dengan judul provokatif. Bahkan, topik ini meramaikan For Your Page (FYP) TikTok dengan tagar #CeuEpon #Tasikmalaya #Pengemis #Emas #ViralIndonesia.
Reaksi Warganet dan Fakta Lama Terkuak
Warganet terbelah menjadi dua kubu. Kubu pertama meluapkan kekesalan, merasa tertipu dengan modus Ceu Epon. Komentar seperti, “Selama ini kita kasih 2 ribu 5 ribu ternyata buat beli emas” dan “Pantes betah ngemis tiap hari – penghasilan Rp200rb/3 jam” membanjiri kolom komentar. Mereka mempertanyakan efektivitas sedekah langsung di jalan dan menyarankan agar bantuan disalurkan ke panti asuhan.
Namun, kubu kedua menyerukan untuk tidak menghakimi terlalu cepat. Beberapa warganet berpendapat, “Jangan judge dari video singkat – mungkin tabungan lama” atau “Mungkin buat mahar, buat anak.” YouTube Bukamata.id juga mengingatkan agar tetap bijak dan tidak mudah mengambil kesimpulan hanya dari potongan video.
Peristiwa ini bukan yang pertama kalinya. Menurut laporan Tribun Jabar pada 22 Februari 2018, Ceu Epon pernah diamankan dalam operasi gabungan Satpol PP Kota Tasikmalaya di Jalan Otto Iskandar Dinata depan SMPN 1. Kala itu, ia meronta-ronta dan mengaku bukan pengemis. Saat didata, ditemukan uang tunai Rp34 juta pecahan Rp100 ribu dan Rp50 ribu dalam gembolan kainnya, serta perhiasan emas berupa gelang dan kalung seberat 30 gram. Kejadian delapan tahun silam ini menjadi bukti bahwa “ekonomi pengemis” kadang jauh melampaui dugaan masyarakat.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.