LOMBOK UTARA — Kebakaran hutan dan lahan di Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) terus meluas dengan kecepatan mengerikan. Luas area terdampak kini mencapai 977,74 hektare, merembet dari Bukit Setampol hingga Puncak Sangkareang. Awal pekan ini baru saja menunjukkan angka 589,23 hektare; dalam beberapa hari api telah menambah jangkauan hampir 400 hektare lagi.
Api pertama kali terdeteksi Selasa (22/9) di Bukit Setampol kemudian menyebar ke kawasan Puncak Sangkareang, Resort Torean, dan Senaru.
“Angka tersebut masih merupakan estimasi sementara dan akan terus diperbarui berdasarkan hasil pemantauan lapangan dan dokumentasi udara menggunakan drone serta verifikasi batas areal terdampak setelah kondisi di lapangan memungkinkan,” ujar Astekita Ardiaristo, Kepala Subbagian Tata Usaha TNGR, Sabtu (26/9/2026) malam.
Tim gabungan yang diterjunkan berjumlah 80 personel. Mereka tersebar di sejumlah titik strategis: Bukit Setampol di jalur pendakian Torean, Pos 3, Pelawangan Senaru, dan Puncak Sangkareang. Upaya pemadaman dimulai dari sejumlah kecil personel awal minggu, kemudian diperkuat secara bertahap seiring luasnya jangkauan api.
Angin Kencang, Vegetasi Kering
Tantangan pemadaman bukan sekadar soal jumlah api, melainkan kondisi alam yang ekstrem. Angin bertiup sangat kencang menjadi musuh utama — api bergerak cepat dan meluas dalam radius yang tak terduga. Vegetasi pun dalam kondisi sangat kering: savana pegunungan, semak, rumput, dan material organik lainnya mudah terbakar tanpa perlawanan berarti.
Medan geografis memperburuk situasi. Lokasi kebakaran berada pada pegunungan yang jauh, terjal, dan sulit dijangkau. “Mobilisasi personel, peralatan, dan logistik membutuhkan waktu serta tenaga yang cukup besar,” jelas Astekita. Waktu tempuh menuju titik kebakaran mencapai sekitar 6 jam dengan rute yang melintasi tebing-tebing curam.
Jalur Pendakian Ditutup, Wisatawan Dipulangkan
Balai TNGR mengambil keputusan tegas: menutup sementara jalur pendakian Torean sejak Rabu (23/9). Langkah ini dimaksudkan menjaga keselamatan pengunjung dan memberi ruang penuh kepada tim pemadaman untuk bekerja tanpa gangguan. Bagi ribuan wisatawan yang tengah berada di kawasan gunung, evakuasi dilakukan secara terkoordinasi.
Dampak penutupan ini signifikan bagi ekonomi lokal. Pariwisata gunung adalah sumber pendapatan utama masyarakat sekitar. Setiap hari penutupan berarti hilangnya pengunjung, hilangnya biaya tiket masuk, hilangnya pemandu wisata, penginapan, warung makan. Pemulihan pascabencana bukan hanya soal memadamkan api, tetapi juga memulihkan kepercayaan wisatawan untuk kembali.
Pemantauan Drone dan Verifikasi Lapangan
Untuk melacak perkembangan kebakaran secara real-time, Balai TNGR menggunakan dokumentasi udara melalui drone. Teknologi ini membantu pemetaan area terdampak dengan lebih akurat ketimbang estimasi darat. Namun, perbaruan data masih bergantung pada kondisi cuaca dan kemampuan tim untuk akses lapangan secara langsung guna verifikasi batas-batas yang terdampak.
Ketidakpastian angka luas area adalah norma dalam situasi kebakaran aktif. Data 977,74 hektare yang dilaporkan Sabtu malam kemungkinan akan berubah lagi dalam update berikutnya — bisa bertambah jika api terus meluas, atau berkurang jika upaya pemadaman mulai menunjukkan hasil nyata.
Mobilisasi Lintas Instansi
Penanganan kebakaran melibatkan kolaborasi lintas lembaga. Selain Balai TNGR, personel dari TNI dan Polri turut dilibatkan dalam operasi pemadaman dan logistik. Manggala Agni Resor Torean dan Masyarakat Peduli Api juga bergerak di lapangan sejak fase awal. Koordinasi antar-instansi ini krusial mengingat medan pegunungan yang kompleks membutuhkan keahlian dan sumber daya yang beragam.
Kendala klasik operasi di pegunungan tetap menjadi hambatan: keterbatasan peralatan berat, sulitnya supply makanan dan air bersih untuk personel, risiko cedera di medan terjal, serta kelelahan fisik tim yang bekerja dalam kondisi ekstrem. Setiap personel yang diturunkan harus mampu bertahan dalam ketinggian ribuan meter dengan udara tipis dan suhu yang bervariasi drastis.
Hingga saat ini, tidak ada laporan korban jiwa dari kebakaran maupun operasi pemadaman. Namun, risiko tetap tinggi selama api masih aktif dan angin terus bertiup kencang di Gunung Rinjani.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.