SAMPIT — Hujan yang mulai turun di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, belum mampu mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara signifikan. Intensitasnya yang rendah dan tidak merata justru memperumit penanganan, dengan bara api masih menggerakkan dari lapisan dalam gambut.
Satgas Penanggulangan Karhutla Kotim masih mencatat rata-rata 13 hingga 17 titik kebakaran per hari. Kemarin saja terjadi 17 kejadian. “Untuk kondisi karhutla kurang lebih masih sama saja. Untuk titik api memang tidak ada yang baru, tetapi rembetan dari yang sudah ada dan yang menyala kembali masih terjadi,” kata Koordinator Lapangan Satgas Penanggulangan Karhutla Kotim Rihel di Sampit, Senin.
Tidak ada titik api baru terdeteksi, namun lokasi yang sebelumnya terbakar terus merembet atau menyala kembali. Luasan lahan terbakar dalam setiap kejadian memang tidak besar—umumnya di bawah satu hektare—tetapi lokasinya berada di lahan gambut yang memerlukan penanganan jauh lebih serius.
Masalahnya jelas: hujan tidak turun merata. Wilayah seperti Desa Rawa Sari, Ganepo, Mentawa Baru Ketapang, dan sebagian Baamang mendapat hujan, sementara lokasi dengan api aktif di Baamang Hulu hingga Kota Besi hanya menerima gerimis ringan. Akibatnya, air hanya membasahi permukaan tanah. Bara di lapisan bawah tetap hidup dan terus menghasilkan asap.
“Walaupun ada hujan, tetapi tidak di tempat yang ada apinya. Di Baamang kota ada hujan agak deras, sedangkan di Baamang Hulu, daerah Banitan yang terbakar, hanya gerimis,” ujar Rihel, yang pernah menjabat Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim.
Gambut Dalam Butuh Volume Air Besar
Fenomena ini terkait langsung dengan karakteristik lahan gambut di Kotim. Ketebalan gambut di sejumlah wilayah mencapai satu hingga lima meter, jauh di bawah permukaan. Untuk membasahi satu meter kubik gambut (1×1×1 meter), diperlukan sekitar 390 liter air. Semakin luas dan dalam area terbakar, kebutuhan air melonjak drastis.
Hujan ringan memang membuat kabut asap di beberapa tempat semakin tebal. Air hanya mencapai bagian atas, sedangkan api terus membakar di kedalaman, menghasilkan asap lebih banyak. Situasi ini menciptakan skenario ganda: penanganan karhutla terhambat, dan kualitas udara memburuk.
Rihel menekankan bahwa potensi karhutla tetap tinggi hingga musim hujan benar-benar menguasai seluruh wilayah. Berdasarkan prakiraan BMKG, hujan diperkirakan mulai memasuki wilayah utara Kotim pada dasarian II Oktober, lalu bergerak bertahap ke wilayah tengah dan selatan hingga dasarian III November. Artinya, masih ada jangka waktu sekitar lima minggu di mana beberapa wilayah masih rentan.
Tantangan Berlapis di Musim Transisi
Pergeseran musim hujan yang bertahap membawa tantangan berlapis. Wilayah utara yang lebih dulu menerima hujan merupakan kawasan rawan banjir. Sebaliknya, wilayah tengah dan selatan yang masih menunggu hujan merata terus menghadapi ancaman karhutla. Dengan pola tersebut, Kotim berhadapan dengan dua bencana potensial dalam rentang waktu berbeda.
Hujan yang sudah turun saat ini bukan indikator berakhirnya karhutla. “Jadi meskipun hujan sudah mulai turun, kita tetap harus waspada. Selama hujan belum merata dan belum cukup membasahi gambut, potensi api untuk kembali menyala masih ada,” kata Rihel.
Penanganan dan pemantauan titik-titik api tetap perlu dilanjutkan hingga hujan berlangsung konsisten dan mampu menembus lapisan dalam lahan gambut. Intensitas, distribusi, dan konsistensi hujan—bukan sekadar kehadirannya—yang akan menentukan kapan ancaman karhutla benar-benar surut.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.