Langit malam di kawasan perbukitan Mijen, Kota Semarang, berubah menjadi jingga pekat pada Senin malam. Bau menyengat sampah terbakar menusuk hidung saat api mendadak melalap area Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang di Zona 3. Sekitar 1.000 meter persegi hamparan sampah plastik dan material sisa seketika berubah menjadi tungku raksasa.
Kepulan asap membubung tinggi di tengah kegelapan. Warga sekitar tentu waswas. Petugas pemadam kebakaran menerima laporan masuk sekitar pukul 22.05 WIB dan segera memacu kendaraan mereka menuju lokasi. Situasi di lapangan sangat genting.
Kerja Keras di Tengah Kepungan Bara
Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang tidak membuang waktu. Mereka menerjunkan tujuh unit armada pemadam sekaligus ke titik api. Sebanyak 40 personel turun langsung, berjibaku di antara gunungan sampah yang labil. Menghadapi api di TPA bukan urusan mudah. Material plastik yang menumpuk bertahun-tahun menyimpan gas metana yang mudah memicu ledakan kecil atau bara yang sulit mati.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang, Sih Rianung, memimpin langsung operasi ini. Ia menyebut api sebenarnya sudah berhasil dikendalikan dalam waktu relatif singkat, namun pihaknya tetap waspada tinggi. “Api sudah dapat dikendalikan, hanya masih ada beberapa titik kecil yang masih ada api,” ujar Rianung saat memantau lokasi.
Untuk menaklukkan bara yang tersembunyi di kedalaman tumpukan sampah, petugas tidak hanya mengandalkan semprotan air. Mereka melibatkan alat berat berupa satu unit ekskavator dan wheel loader. Alat-alat ini dikerahkan untuk membongkar tumpukan sampah, melokalisir titik panas, dan mencegah api merembet lebih jauh ke zona lain yang masih aktif.
Operasi ini pun mendapat dukungan logistik yang krusial. PDAM Tirta Moedal dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang bekerja sama menyuplai air secara terus-menerus. Tanpa pasokan air yang stabil dari mobil tangki, memadamkan api di area seluas itu bakal memakan waktu berhari-hari.
Proses Pendinginan yang Melelahkan
Hingga Selasa pagi, area tersebut masih diselimuti sisa-sisa asap tipis. Petugas masih bersiaga melakukan pendinginan secara sistematis. Mereka menyisir setiap jengkal area yang terbakar untuk memastikan tidak ada bara tersembunyi yang siap membesar kembali jika tertiup angin kencang.
Pekerjaan ini memang melelahkan. Material sampah di TPA Jatibarang punya sifat unik; ia bisa menyimpan panas yang luar biasa di bawah permukaan. Meski permukaan terlihat basah setelah disemprot air, bara di bawahnya bisa saja tetap membara. Jika lengah sedikit saja, api akan muncul lagi dalam hitungan jam.
Tantangan Musim Kemarau
Kejadian ini memang bukan barang baru bagi pengelola TPA Jatibarang. Setiap musim kemarau, risiko kebakaran meningkat drastis. Fermentasi sampah organik yang menghasilkan gas, ditambah cuaca panas ekstrem, seringkali menciptakan titik api spontan tanpa perlu tersentuh korek api sedikit pun. Gesekan antar material kering juga menjadi pemicu yang seringkali sulit dihindari.
Pihak berwenang sejauh ini belum berani menyimpulkan apa yang memicu kebakaran hebat di Senin malam tersebut. Penelusuran masih terus dilakukan. Saat ini, fokus utama tim tetap pada pemantauan area. Petugas tidak ingin mengambil risiko dengan menarik pasukan terlalu cepat dari lokasi.
Aksesibilitas yang terbatas di area pembuangan sampah seringkali menjadi hambatan utama bagi petugas damkar untuk bermanuver. Namun, dengan koordinasi yang cukup solid antar instansi di Semarang, kebakaran kali ini bisa dilokalisir sebelum meluas ke seluruh zona.
Tim di lapangan masih terus bersiaga penuh, memastikan setiap jengkal lahan benar-benar mendingin dan tidak menyisakan potensi bahaya bagi warga sekitar.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.