BANGKOK — Sebagian jalanan di ibu kota Thailand masih tergenang air sejak banjir besar akhir pekan lalu. Warga tidak berputus asa. Mereka malah berkreasi: mengubah ruas jalan depan pusat perbelanjaan yang masih terendam menjadi pasar terapung dadakan, lengkap dengan pembeli yang berjalan menerjang air mencari kebutuhan sehari-hari.
Fenomena ini bukti adaptasi cepat masyarakat urban menghadapi bencana alam. Pedagang lokal, terdampak banjir dan tidak bisa berjualan di lokasi biasa, mulai meletakkan barang dagangan mereka—ikan, sayuran, barang-barang lainnya—di atas rakit atau kotak styrofoam yang mengapung di atas genangan.
Para pembeli berjalan menerjang air atau mendayung antara lapak-lapak darurat untuk membeli kebutuhan pokok.
Foto dan video dari Reuters (Selasa, 29/9/2026) menampilkan ketinggian banjir masih mencapai setinggi paha orang dewasa di lokasi floating market dadakan tersebut. Suasana terlihat surreal: pedagang berdiri di tengah air, pembeli mengapung membawa barang belanja, semua dalam situasi darurat yang terasa normal-biasa saja.
Pedagang Terpaksa Bergerak di Tengah Air
Marisa Singprakhon, salah satu pedagang yang berjualan di floating market dadakan, menceritakan keterpaksaan situasinya. Tokonya terletak di belakang pasar di wilayah Bangkapi. “Sulit bagi pelanggan untuk masuk ke dalam karena ketinggian air yang naik-turun,” ujarnya kepada Reuters.
Di area tempatnya berjualan, air sudah mencapai ketinggian sekitar lutut. Akibatnya, pelanggan enggan masuk karena tidak mau berlama-lama berdiri di dalam air. “Jadi, kami terpaksa berdiri di bagian air di luar untuk melayani pelanggan,” kata Marisa.
Cerita serupa mewakili ratusan pedagang lain yang terdesak oleh situasi. Toko-toko tertutup air. Akses pelanggan terhambat. Mereka pilih bertahan daripada bangkrut: keluar ke jalanan yang banjir, jualan di tengah air.
Pembeli: Tidak Ada Pilihan Lain
Di sisi pembeli, floating market dadakan hadir sebagai penyelamat. Bangorn Dednuam, salah satu pembeli, mengatakan: “Kami tidak punya makanan lagi, karena kami tidak bersiap tepat waktu, kami tidak sempat mengemas barang-barang, jadi tidak ada stok makanan di kulkas. Jadi saya terpaksa keluar untuk membeli makanan karena tidak ada lagi yang bisa dimakan.”
Kejadian ini mengungkap celah logistik saat bencana melanda tiba-tiba. Banyak warga tidak sempat mempersiapkan pasokan makanan. Pasar terapung dadakan menjadi pilihan satu-satunya untuk memenuhi kebutuhan darurat.
Banjir Terbesar di 41 Provinsi Thailand
Bangkok adalah salah satu dari 41 provinsi di seluruh Thailand yang dilanda banjir sejak 16 September lalu. Skala bencana ini luar biasa. Menurut data Kementerian Dalam Negeri Thailand, banjir telah merenggut sedikitnya delapan nyawa dan berdampak pada 580.000 rumah.
Pemerintah Kota Bangkok menetapkan ibu kota Thailand sebagai area terdampak bencana pada Sabtu (26/9), setelah curah hujan mencapai hampir 330 mm dalam 48 jam sejak Kamis (24/9). Hujan deras tanpa henti itu memicu genangan di ruas jalanan utama Bangkok. Mobil-mobil terendam. Bisnis terhenti. Kehidupan kota terhenti.
Namun kreativitas warga tidak terhenti. Floating market dadakan di depan pusat perbelanjaan itu bukan hanya solusi ekonomi darurat. Ia juga menjadi simbol resiliensi—bagaimana manusia beradaptasi, berinovasi, dan bertahan ketika air menutup rencana normal mereka.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.