BANGKOK — Banjir dahsyat yang melanda Thailand dan Myanmar sejak pertengahan September telah merenggut nyawa sedikitnya 18 orang, dengan ratusan lainnya hilang atau mengungsi ke tempat penampungan darurat.
Di Myanmar, tim penyelamat masih berjuang menjangkau wilayah-wilayah terpencil di Tanintharyi—ujung selatan negara—yang tertimpa hujan lebat sejak Jumat malam 25 September. Kondisi darurat ini memperburuk keadaan: akses ke beberapa desa hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, dan puluhan hingga ratusan warga terpaksa tinggal di biara sebagai tempat penampungan sementara.
“Belum ada angka pasti, namun awal mula kejadian mengindikasikan jumlah korban tewas berkisar 7 hingga 10 orang, dengan 20 hingga 30 orang lainnya hilang,” ujar Myo Min, ketua Layanan Medis Darurat Dawei Zabuthiri—sebuah kelompok sukarelawan lokal—kepada AFP.
Persoalan tambahan memperumit penanganan bencana di Myanmar. Negara dengan populasi 51 juta jiwa itu sedang menghadapi konflik internal yang sering kali menyulitkan organisasi kemanusiaan untuk memperkirakan skala sebenarnya dari bencana alam. Akibatnya, pihak berwenang belum merilis jumlah korban resmi hingga Senin (28/9/2026).
Sementara itu, Thailand mengalami dampak yang lebih terukur namun tetap masif. Delapan orang tewas sejak pertengahan September, dengan mayoritas korban terjadi di provinsi-provinsi timur: lima di Sa Kaeo, dua di Chanthaburi, dan satu di Saraburi. Banjir itu menyapu setidaknya 27 provinsi di Thailand, memengaruhi 1,7 juta jiwa dan merusak lebih dari 500.000 rumah.
Bangkok Tetapkan Status Darurat Banjir
Ibu kota Bangkok menjadi pusat fokus setelah diguyur hujan deras nonstop selama hampir 48 jam pada akhir pekan. Pemerintah Kota Bangkok menetapkan status bencana banjir untuk seluruh 50 distriknya. Sejauh ini tidak ada laporan resmi korban jiwa di wilayah metropolitan, namun dampak sosial ekonomi sangat nyata.
Departemen Pencegahan dan Mitigasi Bencana (DDPM) Thailand melaporkan sekitar 52.000 rumah terdampak banjir di Bangkok, dengan hampir 4.900 orang dievakuasi ke tempat penampungan. Genangan air menggenangi ruas-ruas jalan utama, jalanan terlihat sepi, dan jaringan transportasi umum tampak lengang.
Walaupun DDPM menyatakan ketinggian banjir telah stabil pada Senin pagi, wartawan AFP masih menyaksikan hujan deras dan genangan air setinggi paha di beberapa wilayah timur kota. Pemerintah Bangkok meliburkan sekolah-sekolah dan menyarankan warga bekerja dari rumah. Langkah pencegahan ini terlihat efektif—ruas jalan dan transportasi umum jauh lebih sepi dibanding hari biasa.
Iklim Ekstrem & Ketahanan Negara
Sistem cuaca ekstrem yang memicu banjir ini memengaruhi kedua negara secara bersamaan, mencerminkan tantangan yang dihadapi kawasan Asia Tenggara. Myanmar, menurut organisasi nirlaba Germanwatch, termasuk dalam 10 negara paling rentan terhadap krisis iklim global—posisi yang memperburuk kapasitas negara dalam menangani bencana alam skala besar.
Myo Min dari kelompok penyelamat Myanmar menekankan bahwa tim belum mampu menangani seluruh wilayah bencana secara menyeluruh. Keterbatasan sumber daya, infrastruktur, dan kondisi konflik internal menciptakan bottleneck dalam penyaluran bantuan. Ratusan warga masih mengungsi, dan informasi mengenai hilangnya orang masih terbatas karena akses geografis yang sulit.
Banjir ini mengingatkan betapa rentannya komunitas di kawasan Asia Tenggara terhadap fenomena cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi. Respons cepat kedua pemerintah—terutama penetapan status darurat Bangkok dan mobilisasi tim penyelamat di Myanmar—menjadi langkah awal untuk meminimalkan korban dan membantu korban bencana.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.