Rabu, 30 September 2026 WIB
BREAKING
DAERAH

Harga TBS kelapa sawit petani di Desa Arse Simatorkis Padang Lawas Rp 2.800/Kg

Tandan buah segar kelapa sawit dari petani Desa Arse Simatorkis Padang Lawas yang dijual dengan harga Rp 2.800 per kilogram
Tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani Desa Arse Simatorkis, Kecamatan Barumun, Padang Lawas saat ini dipasarkan dengan harga Rp 2.750–Rp 2.800 per kilogram. (. (Ilustrasi: AI)

Petani kelapa sawit di Desa Arse Simatorkis, Kecamatan Barumun, Kabupaten Padang Lawas, kini terjepit dilema. Hasil panen mereka memang mulai melimpah, namun angka penjualan di tingkat pengepul tak kunjung bergerak naik. Harga tandan buah segar (TBS) masih tertahan di rentang Rp 2.750 hingga Rp 2.800 per kilogram.

Kondisi ini sudah berlangsung selama dua bulan penuh. Bagi para petani, angka tersebut terasa stagnan. Mereka menanti perubahan yang tak kunjung datang, sementara biaya hidup dan perawatan lahan terus merangkak naik. Harapan untuk merasakan lonjakan harga yang sepadan dengan tenaga yang dikeluarkan perlahan memudar.

H. Idaham, salah seorang petani setempat, tak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Baginya, harga saat ini masih jauh dari kata ideal untuk menyejahterakan keluarga. Ia bahkan membandingkan nasibnya dengan petani sawit lain di kecamatan yang sama yang dianggap lebih beruntung.

“Semoga harga TBS kelapa sawit naik agar kami para petani bisa sejahtera dan berpenghasilan setara dengan petani lainnya yang sudah tergolong sukses di kecamatan ini,” ujarnya saat berbincang pada Selasa (29/9).

Produksi Membaik Berkat Hujan

Di balik lesunya harga, ada secercah kabar baik yang datang dari kebun-kebun warga. Produktivitas pohon sawit di Arse Simatorkis menunjukkan grafik yang menanjak. Idaham mencatat, hasil panen kini tidak lagi sekecil dulu. Sebelumnya, lahan miliknya seluas dua hektar hanya mampu menghasilkan 1,3 ton buah sawit dalam sekali panen.

Sekarang, angka tersebut naik menjadi 1,6 ton atau setara dengan 1.600 kilogram per dua hektar. Perubahan ini bukan tanpa alasan. Faktor cuaca menjadi kunci utama di balik peningkatan tersebut. Intensitas hujan yang cukup sejak beberapa waktu lalu membuat tanaman sawit mendapatkan pasokan air yang optimal.

Selain curah hujan yang mendukung, masa panen di wilayah Kecamatan Barumun saat ini memang sedang berada di puncak normal tahun 2026. Pohon-pohon sawit yang sebelumnya sempat mengalami masa paceklik kini kembali berbuah lebat. Namun, peningkatan hasil panen ini tidak lantas membuat wajah petani berseri-seri sepenuhnya.

Dilema Pendapatan Petani

Peningkatan produksi sebenarnya menjadi berkah. Sayangnya, kegembiraan itu terasa tanggung. Saat volume barang yang dijual meningkat, pendapatan petani semestinya ikut melonjak tajam. Faktanya, harga beli yang masih tertahan di kisaran Rp 2.800 per kilogram membuat margin keuntungan tetap tipis.

Mereka merasa hasil kerja keras di kebun tidak sebanding dengan nominal yang diterima saat transaksi di tingkat pengepul.

Situasi ini menciptakan beban pikiran baru. Petani harus mengeluarkan biaya ekstra untuk tenaga kerja pemanen, pupuk, hingga perawatan agar pohon tetap produktif. Tanpa kenaikan harga jual, biaya-biaya tersebut hampir menghabiskan seluruh sisa pendapatan dari kenaikan hasil panen.

Sekarang, mereka menggantungkan nasib pada intervensi pemerintah daerah maupun pihak terkait. Petani menginginkan adanya langkah konkret untuk memantau harga di tingkat lapangan, bahkan membuka akses pasar yang lebih luas agar mereka bisa mendapatkan harga lebih layak.

Upaya menjaga produktivitas lahan akan sia-sia jika harga jual tak kunjung menunjukkan tren positif yang memberikan ruang bagi petani untuk bernapas lega.

Keinginan mereka sebenarnya sederhana. Petani hanya ingin jerih payah merawat kebun membuahkan hasil yang bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari dengan lebih baik.

Sampai ada kebijakan atau mekanisme pasar yang mengerek harga di Desa Arse Simatorkis, para petani harus tetap berjibaku dengan angka yang ada, sembari berharap hasil panen pada periode mendatang tidak lagi dihadapkan pada kebuntuan harga yang sama.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda