KUALA KAPUAS — Pemerintah Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, memutuskan memperpanjang status Tanggap Darurat Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) selama 14 hari ke depan hingga 13 Oktober 2026. Keputusan ini diambil dalam rapat evaluasi yang dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Kapuas Dodo pada Selasa (29/9).
Pokok Peristiwa
Perpanjangan status darurat mempertimbangkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memprediksi curah hujan di wilayah Kalimantan Tengah—khususnya Kabupaten Kapuas—akan tetap rendah hingga awal November 2026. Kondisi cuaca ekstrem ini meningkatkan risiko kebakaran hutan dan kelangkaan air bersih bagi ribuan penduduk.
“Status tanggap darurat bencana kekeringan dan karhutla di Kabupaten Kapuas diperpanjang selama 14 hari ke depan, hingga 13 Oktober 2026,” ujar Dodo saat memimpin rapat di Posko Induk Karhutla Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kapuas.
Rapat tersebut menghadirkan sejumlah pihak kunci termasuk Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kapuas Pangeran S Pandiangan, Inspektur Daerah Kapuas Arnes Satyari Perwitajati, Direktur RSUD dr H Soemarno Sosroadmodjo, Direktur Perumdam Kapuas, para camat, dan relawan Posko Karhutla. Kehadiran mereka mencerminkan upaya penyelarasan respons darurat lintas institusi di tingkat kabupaten.
Geliat kekeringan dan potensi kebakaran hutan di Kapuas bukan isu baru. Tren perpanjangan status darurat serupa juga terlihat di daerah lain, seperti Kabupaten Kulon Progo di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pemerintah Kulon Progo juga memperpanjang Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan mulai 1 Oktober hingga 31 Desember 2026, dengan alasan yang sama: proyeksi BMKG menunjukkan musim kemarau masih berlanjut akibat dampak fenomena El Niño.
Konteks
Data dari BPBD Kulon Progo mencatat bahwa hingga akhir September, mereka telah menyalurkan 387 tangki air bersih ke 121 titik di tujuh kecamatan, menjangkau sekitar 2.537 kepala keluarga atau 6.552 jiwa. Kondisi serupa dikhawatirkan akan terjadi di Kapuas jika kekeringan semakin intensif.
Dampak langsung kekeringan di Kapuas mencakup kelangkaan air bersih, risiko kebakaran hutan yang mengancam ekosistem dan mata pencaharian masyarakat, serta potensi gangguan kesehatan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.