JAKARTA — Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto meluruskan pernyataannya tentang kondisi ‘roda kehidupan masyarakat berjalan normal’ di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kalimantan. Klarifikasi ini disampaikan menyusul penyebaran berita pernyataannya yang memicu polemik, terutama mengingat dampak nyata yang dialami ribuan warga lokal.
Pokok Peristiwa
Karhutla di Sumatra dan Kalimantan masih membakar 209,78 hektare lahan per data terbaru BNPB. Namun angka ini hanyalah puncak gunung es.
Di Kalimantan Timur saja, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kaltim mencatat luasan kebakaran mencapai 2.505 hektare dalam waktu 21 hari sepanjang September 2026, dengan total 608 kejadian sejak 1 hingga 21 September.
Lompatan drastis terlihat ketika dibandingkan periode sebelumnya: dari Januari hingga Agustus 2026 luasan lahan terbakar hanya mencapai 3.828 hektare, sementara hanya di bulan September tercatat 2.505 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Kaltim Buyung Dodi Gunawan menyebut September 2026 sebagai fase krusial.
“Periode September ini menjadi fase krusial dengan potensi peningkatan kasus yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya, terutama pada Agustus,” ujarnya di Samarinda, Rabu (24/9/2026).
Peningkatan awal dimulai Agustus dengan luasan sekitar 3.300 hektare, dan tren itu terus berlanjut pada September dengan kecepatan yang menghawatirkan.
Konteks
Persoalan pun meluas ke sektor transportasi udara. Kabut asap akibat karhutla menyelimuti Bandara Tjilik Riwut di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, sehingga jarak pandang menurun drastis. Akibatnya, operasional penerbangan dari dan menuju bandara terhenti sementara.
Garuda Indonesia dan Citilink menghentikan penerbangan hingga Sabtu (26/9), sementara Lion Group hingga Kamis (24/9), dengan keputusan dapat berubah mengikuti kondisi jarak pandang.
Pemerintah Kota Palangka Raya menyiapkan opsi transportasi darat menuju Bandara Syamsudin Noor di Banjarmasin bagi penumpang yang tetap perlu melanjutkan perjalanan.
Data spasial menunjukkan Kabupaten Paser memiliki titik kejadian terbanyak dengan 371 titik karhutla, sementara Kabupaten Kutai Kartanegara mencatatkan luasan lahan terdampak terluas mencapai sekitar 2.026 hektare karena karakteristik bentang lahan yang luas.
Dampak dan Langkah Berikutnya
Dari total 6.333 hektare lahan yang terbakar sepanjang 2026 hingga 21 September, sebagian besar terjadi di luar kawasan hutan yaitu sekitar 4.500 hektare. Sisanya, sekitar 1.700 hektare berada dalam kawasan hutan.
Dimensi dampak sosial kerap terlewatkan saat berbicara angka hektare. Kebakaran di luar kawasan hutan dianggap lebih rawan karena bersinggungan langsung dengan permukiman dan lahan pertanian.
Ribuan rumah tangga menghadapi asap tebal yang menyebabkan gangguan pernapasan, sekolah tutup, kegiatan ekonomi lokal terganggu, dan mobilitas penduduk terbatas.
Pernyataan Kepala BNPB tentang ‘kehidupan normal’ yang beredar luas nyatanya tidak mencerminkan realitas di lapangan yang dialami masyarakat Kalimantan.
BNPB terus memantau dan melakukan operasi pemadaman api, namun momentum September dengan potensi eskalasi yang lebih tinggi menjadi tantangan serius bagi tim penanggulangan bencana di tataran pusat dan daerah.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.