WASHINGTON — Departemen Pendidikan Amerika Serikat menuai sorotan tajam setelah mengunggah gambar hasil kecerdasan buatan (AI) untuk mempromosikan ajang balap Freedom 250 Grand Prix. Alih-alih mendapatkan antusiasme publik, visual bergaya Mario Kart tersebut justru memicu perdebatan luas di media sosial karena kemunculan sosok yang dianggap mirip dengan Jeffrey Epstein dan Hillary Clinton.
Gambar yang dibuat menggunakan teknologi Grok Imagine tersebut awalnya bertujuan mempromosikan balapan IndyCar di National Mall sebagai rangkaian perayaan ulang tahun ke-250 Amerika Serikat. Dalam grafis tersebut, Presiden Donald Trump tampak memacu kendaraan di arena balap bersama dua tokoh lainnya yang diklaim sebagai Menteri Pendidikan Linda McMahon dan Menteri Transportasi Sean Duffy.
Salah Identifikasi Sosok di Gambar AI
Ribuan komentar membanjiri unggahan tersebut, dengan banyak pengguna mempertanyakan mengapa sosok yang menyerupai Epstein dan Clinton muncul di samping presiden. Pengguna media sosial dengan cepat membuat spekulasi liar, bahkan anggota parlemen dari Partai Demokrat turut memberikan sindiran pedas melalui platform X dengan mengutip dialog dari film The Bourne Ultimatum.
Dugaan kuat mengarah pada keterbatasan AI dalam mengenali tokoh publik yang memiliki profil rendah di mata publik luas. Beberapa analis media sosial menyebut bahwa Linda McMahon dan Sean Duffy mungkin tidak dikenali oleh algoritma AI, sehingga sistem mencoba “mengisi” karakter tersebut dengan wajah tokoh yang lebih familier dalam database pelatihannya.
Ketika The Independent mencoba memverifikasi identitas tokoh dalam gambar tersebut melalui perangkat AI lain, hasilnya tetap kacau. Perplexity mengidentifikasi sosok tersebut sebagai Donald Trump, Hillary Clinton, dan Gubernur California Gavin Newsom.
Sementara itu, Gemini memberikan jawaban berbeda dengan menyebut nama Senator Elizabeth Warren dan Ed Markey. Hingga saat ini, pihak Departemen Pendidikan belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden ini.
Dampak Ketergantungan pada Teknologi AI
Kejadian ini menyoroti risiko penggunaan konten buatan AI dalam komunikasi publik instansi pemerintah. Penggunaan gambar yang tidak akurat bukan sekadar masalah teknis, melainkan dapat memicu narasi politik yang tidak diinginkan, terutama terkait tokoh kontroversial seperti Epstein.
Ketergantungan pada efisiensi teknologi sering kali mengabaikan aspek verifikasi manual yang krusial untuk menjaga kredibilitas institusi.
Kesalahan visual ini menjadi pengingat bagi humas pemerintah di berbagai belahan dunia mengenai pentingnya kontrol kualitas.
Di era di mana konten visual sangat cepat viral, kesalahan kecil dalam detail gambar dapat mengaburkan pesan utama yang ingin disampaikan, bahkan mengalihkan perhatian publik dari agenda nasional yang penting seperti perayaan hari jadi negara menuju perdebatan spekulatif di kolom komentar.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.