NEW YORK, JOURNALARTA.COM — Saham Nike Inc. (NYSE: NKE) terperosok ke level terendah sejak tahun 2013, dengan nilai anjlok 8,71% menjadi $32,09 dalam perdagangan after-hours pada Kamis, 2 Oktober 2026. Penurunan drastis ini menyusul rilis laporan keuangan kuartal pertama tahun fiskal 2027 yang mengecewakan, terutama proyeksi pendapatan yang jauh di bawah ekspektasi pasar.
Sebelumnya, pada penutupan perdagangan reguler, saham Nike berada di posisi $35,15, turun 0,71% dari hari sebelumnya. Harga pembukaan tercatat $35,45, dengan level tertinggi harian $36,24, dan terendah $35,02 — yang sekaligus menjadi titik terendah baru dalam 52 minggu terakhir. Rentang harga 52 minggu Nike kini berada di antara $35,02 hingga $76,97, mengindikasikan penurunan lebih dari 54% dari puncaknya.
Q1 FY2027 Miss dan Proyeksi Mengerikan
Laporan keuangan Q1 FY2027 (kuartal yang berakhir 31 Agustus 2026) menunjukkan pendapatan $11,21 miliar, meleset dari estimasi Wall Street sebesar $11,32-$11,33 miliar. Meskipun laba per saham (EPS) $0,48 berhasil melampaui ekspektasi $0,43-$0,44, hal itu tidak cukup menahan kekhawatiran investor.
Kekhawatiran terbesar datang dari segmen Greater China, yang mengalami penurunan tajam 22% hingga 26%. Penjualan Nike Direct juga merosot 8% year-on-year menjadi $4,1 miliar, sementara penjualan wholesale turun 1% menjadi $6,8 miliar. Brand Converse menunjukkan kinerja terburuk dengan anjlok 28% menjadi $263 juta.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah proyeksi (guidance) Nike untuk tahun fiskal 2027 (hingga Mei 2027). Perusahaan memperkirakan pendapatan akan turun dalam kisaran high-single digit (-7% hingga -9%), jauh lebih buruk dari ekspektasi analis yang hanya memprediksi penurunan 2% hingga 3%. Proyeksi EPS yang disesuaikan juga anjlok menjadi $1,15-$1,35, hampir 30% di bawah konsensus analis yang sebesar $1,67-$1,69. CFO Dave Denton bahkan memperingatkan bahwa laba operasional akan turun lebih dalam dari pendapatan dan tekanan ini bisa berlanjut hingga FY2028.
“Laut Kesamaan” dan Tantangan Pasar China
CEO Elliott Hill, yang telah menjabat selama dua tahun, secara terbuka mengakui tantangan yang dihadapi perusahaan dalam earnings call. “Kami memiliki lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan di Nike Sportswear, Jordan Brand, dan Greater China. Perbaikannya akan memakan waktu,” ujarnya.
Tiga masalah utama yang disoroti adalah:
- Nike Sportswear: Menyumbang sekitar 50% dari pendapatan Nike, segmen ini menghadapi “lautan kesamaan” produk lifestyle yang terlalu mirip dengan kompetitor. Penjualan di segmen ini turun dalam kisaran low double-digit.
- Jordan Brand: Menyumbang 13% dari bisnis, merek ini terlalu mengandalkan retro sneakers. Penumpukan stok Jordan menyebabkan penurunan penjualan di kisaran mid-teens.
- Greater China: Penurunan signifikan 22%-26% mencerminkan melemahnya daya beli konsumen Tiongkok dan persaingan ketat dari merek lokal seperti Anta dan Li-Ning.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.