Bank Indonesia Intervensi Pro-Market
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyatakan bahwa pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang regional dan secara quarter-to-date hanya melemah 0,67 persen. Menurutnya, tekanan didorong oleh kebutuhan valas importir akhir triwulan III serta arus keluar dana dari portofolio aset emerging market di tengah kenaikan yield UST.
Bank Indonesia berkomitmen untuk terus melakukan intervensi pasar melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) untuk menjaga stabilitas. Cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus masih kuat, mencapai USD146,5 miliar, sebagai benteng pertahanan nilai tukar.
Dampak Pelemahan Rupiah ke Masyarakat
Pelemahan rupiah hingga mendekati Rp18.000 memiliki dampak langsung pada berbagai sektor. Importir akan menghadapi biaya yang lebih tinggi, yang berpotensi menaikkan harga barang impor seperti gadget dan mesin. Selain itu, cicilan utang luar negeri bagi perusahaan dan pemerintah yang dalam denominasi dolar AS akan menjadi lebih mahal.
Di sisi lain, eksportir komoditas seperti nikel, aluminium, dan CPO justru diuntungkan karena mereka menerima pembayaran dalam dolar, yang kini bernilai lebih banyak dalam rupiah. Hal ini turut berkontribusi pada surplus neraca perdagangan. Warganet di media sosial juga mulai menunjukkan kekhawatiran, dengan seruan untuk memboikot barang impor sebagai respons, meskipun ekonom menilai efeknya kecil, sentimen anti-impor menguat.
Untuk Jumat, 2 Oktober, rupiah diperkirakan akan fluktuatif. Pasar akan sangat mencermati rilis data NFP AS. Jika NFP di atas 90 ribu, DXY berpotensi naik ke 102, yang bisa mendorong rupiah menembus Rp18.000. Sebaliknya, jika data NFP di bawah ekspektasi, rupiah memiliki peluang untuk kembali menguat.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.