Menurut CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober telah turun drastis:
- Seminggu lalu: 71%
- Setelah pidato Williams (30 September): 54% → 50%
- Setelah data PCE (1 Oktober): 34-38%
Sementara itu, Polymarket menunjukkan taruhan 33,5% untuk kenaikan. Goldman Sachs bahkan merevisi perkiraan kenaikan suku bunga mereka ke Desember, bukan Oktober. Meskipun jeda di Oktober semakin mungkin, pasar masih memprediksi kenaikan suku bunga pada Desember secara hampir 100%.
Ekonomi AS Panas, Yield Obligasi Tetap Tinggi
Meski ada sinyal jeda, ekonomi AS menunjukkan kekuatan yang dapat memicu kekhawatiran inflasi kembali. Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal kedua AS direvisi naik tajam dari 1,5% menjadi 2,2%, didorong oleh lonjakan belanja konsumen sebesar 4,6%.
Data ketenagakerjaan juga menunjukkan kekuatan. Laporan ADP Employment September mencatat penambahan 90 ribu pekerjaan, di atas ekspektasi 70 ribu. Klaim pengangguran juga turun ke 197 ribu, level terendah dalam 10 minggu. Pasar tenaga kerja yang ketat ini menjadi salah satu alasan The Fed tetap waspada terhadap potensi inflasi.
Ancaman terbesar bagi pasar global tetap pada tingkat yield Treasury AS yang tinggi. Yield Treasury 10 tahun berada di 5,34%, level tertinggi sejak 2007 sebelum krisis keuangan. Yield Treasury 30 tahun mencapai 5,60%, tertinggi dalam 24 tahun. Tingginya yield ini membuat investor mengalihkan modal dari pasar saham dan negara berkembang ke obligasi AS, menekan nilai tukar mata uang lain dan pasar saham global.
Tingkat suku bunga hipotek di AS juga mencapai 7,28%, tertinggi dalam tiga tahun, yang membekukan pasar properti. Di sisi lain, harga minyak Brent yang berkisar $98-100 akibat konflik di Timur Tengah dan Selat Hormuz juga menjadi pendorong inflasi yang sulit diturunkan.
Dampak ke Indonesia: Rupiah dan IHSG
Untuk Indonesia, keputusan The Fed memiliki implikasi signifikan. Rupiah saat ini tertekan di level Rp17.966 terhadap dolar AS, dipengaruhi oleh indeks dolar AS (DXY) di 101,82 dan yield Treasury 5,34%. Jika The Fed benar-benar menahan suku bunga pada Oktober, DXY berpotensi turun, memungkinkan Rupiah untuk menguat kembali menuju Rp17.700.
Namun, jika data Non-Farm Payrolls (NFP) September AS yang akan dirilis Jumat malam menunjukkan angka kuat (proyeksi +90 ribu), DXY dapat kembali naik ke 102, berpotensi membuat Rupiah menembus Rp18.000 lagi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga rentan. Tingginya yield AS menyebabkan investor asing melepas Surat Berharga Negara (SBN), tercermin dari net sell Rp1,61 triliun minggu ini, membuat IHSG turun ke 6.039. Jeda suku bunga The Fed diharapkan dapat memberikan ruang bagi IHSG untuk rebound.
Jadwal penting yang perlu dicermati adalah NFP September AS pada Jumat malam 2 Oktober, data Inflasi CPI September AS minggu depan, serta rapat FOMC pada 27-28 Oktober. Keputusan The Fed bulan depan hanya menunda kenaikan suku bunga, bukan sinyal pivot dovish yang mengakhiri era suku bunga tinggi.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.