JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Nvidia kembali mencetak rekor harga tertinggi sepanjang masa (ATH) pada Jumat, 3 Oktober 2026, ditopang rekomendasi “Top Pick” dari Morgan Stanley dan rencana *buyback* saham jumbo. Di sisi lain, perusahaan juga meluncurkan superkomputer personal DGX Spark 64GB seharga $4.999 dan muncul kabar Amazon menjual chip Nvidia senilai $8 miliar dalam skema *leaseback*. Saham NVDA ditutup naik +1,3% di level $233,95, setelah sempat menyentuh ATH intraday $237,87. Kenaikan ini nyaris memecahkan rekor penutupan bulan Mei di $235,74. Sementara itu, Nasdaq juga mencatat rekor tertinggi di 27.190,86 poin setelah laporan pekerjaan AS yang lebih rendah dari perkiraan meredakan kekhawatiran kenaikan suku bunga The Fed.
Morgan Stanley: Nvidia Top Pick dengan Target $300
Katalis utama kenaikan saham Nvidia hari ini adalah pengembalian status “Top Pick” untuk sektor semikonduktor oleh Morgan Stanley. Analis Joseph Moore menyebut valuasi Nvidia “sangat tidak menuntut” setelah pertemuan langsung dengan CEO Jensen Huang dan CFO Colette Kress. Moore menyoroti diversifikasi bisnis Nvidia di luar *hyperscaler* dan laboratorium AI perbatasan, serta potensi positif *agentic AI* untuk CPU dan GPU. Morgan Stanley memberikan peringkat Overweight (Buy) dengan target harga optimis $300. Ini terjadi hanya dua hari setelah dewan direksi Nvidia pada 1 Oktober 2026 mengesahkan penambahan program *buyback* saham senilai $150 miliar. Ini menjadikan total sisa program *buyback* Nvidia mencapai $235 miliar hingga akhir tahun fiskal 2028, menjadikannya program *buyback* terbesar dalam sejarah perusahaan. Jensen Huang sendiri menyebut Nvidia sebagai “satu-satunya saham *growth value* di dunia,” dan perusahaan berharap dapat menjual dua kali lipat chip tahun depan dibandingkan tahun ini. Dengan kapitalisasi pasar mencapai $5,7 triliun hari ini, Nvidia menunjukkan pertumbuhan signifikan. Pendapatan kuartal terakhir mencapai $96,2 miliar, naik 41% dari $68,1 miliar saat ATH saham di bulan Mei. Ini menunjukkan bahwa meskipun harga sahamnya mendekati rekor Mei, valuasi perusahaan secara *earning* menjadi lebih murah.
DGX Spark 64GB: AI 100 Miliar Parameter di Meja Kerja
Nvidia juga mengumumkan peluncuran DGX Spark 64GB, sebuah superkomputer personal yang dirancang untuk menjalankan model AI hingga 100 miliar parameter secara lokal, tanpa perlu *cloud*. Perangkat ini akan tersedia mulai 23 Oktober 2026 secara global dengan harga mulai $4.999 (sekitar Rp78 juta, asumsi kurs Rp15.600/USD). Produk ini menargetkan pengembang, peneliti, dan *startup* yang membutuhkan kekuatan komputasi AI tinggi di perangkat mereka. Beberapa mitra yang akan menjual DGX Spark antara lain Acer, Asus, Dell, Gigabyte, HP, dan MSI.
Drama Amazon: Jual $8 Miliar Chip Nvidia, Lalu Sewa Balik
Laporan dari Financial Times dan Reuters pada 2-3 Oktober 2026 mengungkapkan bahwa Amazon (AMZN) sedang bernegosiasi untuk menjual chip Nvidia Grace Blackwell senilai sekitar $8 miliar kepada investor eksternal melalui *Special-Purpose Vehicle* (SPV), kemudian menyewanya kembali (*leaseback*). Ribuan chip Blackwell ini, yang sudah dibeli dan terpasang di lima negara bagian AS, akan masuk ke SPV yang didanai investor melalui penerbitan utang. Amazon tidak akan memiliki ekuitas dalam SPV tersebut, dan bahkan menawarkan hingga 10% ekuitas kepada investor luar. Dengan skema ini, Amazon tetap dapat menggunakan chip tersebut tanpa harus mencatatnya di neraca keuangan, sehingga beban depresiasi tidak membebani dan memungkinkan model bisnis *asset-light*. Saham Amazon dan Nvidia sama-sama naik sekitar 2% hari ini menyusul kabar ini. Langkah ini menyoroti biaya infrastruktur AI yang sangat mahal, dengan sembilan perusahaan teknologi besar AS memiliki komitmen *off-balance sheet* senilai $3 triliun per Agustus, menurut Wall Street Journal. Skema ini menunjukkan bahwa *hardware* AI mulai dianggap sebagai kelas aset baru, di mana chip dapat berfungsi sebagai kolateral.
Nvidia dan Michael Burry Berdebat Soal Depresiasi Chip
Kritikus pasar, Michael Burry, yang dikenal dari “The Big Short,” kembali melontarkan kritik terhadap praktik perusahaan teknologi besar. Burry menuduh mereka melebih-lebihkan jadwal depresiasi chip Nvidia, yang mengakibatkan estimasi biaya tahunan yang terlalu rendah. Menanggapi kritik ini, Nvidia melalui blog *Senior Product Marketing* Shruti Koparkar pada Kamis, 2 Oktober, menyatakan bahwa “setiap operator besar telah memperpanjang jadwal depresiasi.” Meta dan Google, misalnya, kini mengasumsikan jadwal depresiasi 6 tahun untuk *server* AI, naik dari 4 tahun sebelumnya, bukan 3 tahun seperti yang diasumsikan Burry. Menurut Barrons, nilai sewa chip Nvidia yang berusia 6 tahun justru meningkat, mengindikasikan bahwa depresiasi yang diperhitungkan mungkin terlalu berlebihan. Isu ini menjadi krusial mengingat Nvidia sedang mengatur pembiayaan $500 miliar dengan Wall Street, yang membutuhkan bukti bahwa chip mereka mempertahankan nilai sebagai jaminan pinjaman. Namun, Burry membalas bahwa kenaikan nilai sewa lebih disebabkan oleh kelangkaan komputasi, bukan karena ketahanan nilai chip itu sendiri, dan ia memprediksi nilai tersebut akan anjlok jika chip baru yang lebih efisien hadir di pasaran.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.