Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah memastikan bahwa TPG yang tertahan akan dicairkan pada awal Oktober 2026. Dirjen GTK Nunuk, seperti dilaporkan Ruang.id dan Bogor-Today empat hari lalu, meminta guru-guru yang datanya belum valid untuk segera melengkapi. “Bagi yang belum valid untuk segera melengkapi datanya,” kata Nunuk.
TPG merupakan tunjangan yang diberikan kepada guru bersertifikasi. Untuk Aparatur Sipil Negara (ASN), tunjangan ini sebesar satu kali gaji pokok, sementara guru non-ASN menerima Rp2.000.000. Mulai tahun 2026, pencairan dilakukan secara bulanan, berbeda dengan sebelumnya yang triwulanan. Prosesnya melalui transfer langsung dari pusat ke rekening guru.
Penyebab Keterlambatan Pencairan TPG
Keterlambatan pencairan TPG bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, data guru belum valid di Dapodik atau Info GTK, misalnya jam mengajar kurang dari 24 jam per minggu. Kedua, data belum terbaca di GTK pusat karena operator sekolah belum melakukan sinkronisasi dengan benar. Ketiga, rekening guru tidak aktif. Status “siap cair” belum tentu langsung masuk, karena harus menunggu gelombang pencairan.
Berdasarkan Permendikdasmen No. 10 Tahun 2026 yang terbit 1 April 2026, terdapat alur dan jadwal penyaluran TPG. Input data maksimal tanggal 10, validasi tanggal 13, penetapan tanggal 15, dan rekomendasi maksimal tanggal 20 untuk Januari-November. Untuk Desember, rekomendasi maksimal tanggal 15. Penyaluran baru dilakukan setelah tanggal rekomendasi. Ini menunjukkan bahwa meskipun proses sudah berjalan, mungkin ada tahapan yang memakan waktu.
Tuntutan Kesejahteraan Guru di Hari Aksi BEM SI
Ironisnya, di saat Hari Guru Sedunia dirayakan dengan protes TPG, Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) juga menggelar demo pada 5 Oktober pukul 13.00 WIB di depan Gedung DPR. Salah satu tuntutan utama mereka adalah “menyejahterakan guru dan tenaga kependidikan”. Ini semakin menguatkan bahwa isu kesejahteraan guru, terutama TPG, menjadi perhatian krusial yang harus segera dituntaskan pemerintah.
Abdul Mu’ti sendiri sempat menekankan, “Bagi kami, tunjangan guru bukan sekadar angka dalam anggaran, tetapi bentuk apresiasi atas dedikasi para guru yang setiap hari hadir mendidik generasi bangsa.” Harapan para guru seperti Siti Nurlaela dan Syamsuddin yang mengaku TPG sangat membantu ekonomi mereka untuk kebutuhan sehari-hari, membeli laptop, hingga melanjutkan pendidikan, kini menggantung pada janji pencairan awal Oktober 2026.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.