JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Kualitas udara di beberapa kota besar Indonesia pada Senin, 5 Oktober 2026, mencapai tingkat berbahaya, dengan Palembang mencatat angka Indeks Kualitas Udara (AQI) mencapai 485 dan Pontianak di 412. Kedua kota ini masuk dalam kategori paling buruk berdasarkan pantauan IQAir, menyusul Jambi dengan AQI 320 yang juga berbahaya.
Situasi ini dipicu meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan. Sementara itu, Jakarta juga tidak luput dari dampak buruk, dengan AQI mencapai 152 yang masuk kategori tidak sehat.
Kondisi Kualitas Udara di Sejumlah Kota
Data IQAir real-time per 5 Oktober 2026, pukul 15.30 WIB, menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan:
Palembang, Sumatera Selatan: AQI bervariasi antara 171 hingga 1218 di berbagai stasiun, dengan angka tertinggi mencapai 485. Kategori kualitas udara di Palembang adalah BERBAHAYA (Hazardous, 301+). Konsentrasi PM2.5 di kota ini tercatat lebih dari 10,2 kali lipat panduan WHO, menempatkan Palembang di peringkat pertama kota dengan udara terburuk di Indonesia.
Pontianak, Kalimantan Barat: Kualitas udara fluktuatif, dengan AQI pada pukul 07.00 WIB mencapai 188 (sangat tidak sehat), kemudian turun menjadi 80-87 pada siang hari, dan kembali naik menjadi 87 pada pukul 23.00 WIB. Puncak AQI terukur adalah 412, bahkan sempat 804 di beberapa stasiun. Konsentrasi PM2.5 sebesar 108 µg/m³ atau 17,2 kali lipat panduan WHO. Meskipun kecepatan angin siang hari meningkat menjadi 14 km/jam membantu dispersi polutan, kondisi ini tetap mengkhawatirkan.
Jambi: AQI tercatat antara 168 hingga 320, dengan kategori BERBAHAYA. Konsentrasi PM2.5 mencapai 235,3 µg/m³ pada pukul 08.00 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mengeluarkan peringatan adanya titik api aktif di sekitar Jambi. Kondisi ini berdampak signifikan pada aktivitas ekonomi lokal, seperti sepinya perdagangan UMKM dan penurunan produktivitas pekerja akibat jarak pandang yang menurun.
Jakarta: Meskipun tidak separah kota-kota di Sumatera dan Kalimantan, kualitas udara Jakarta juga tidak sehat. AQI berkisar antara 107 hingga 168, dengan rata-rata 152, yang masuk kategori tidak sehat. PM2.5 adalah polutan utama. Pada periode 2-4 Oktober, Jakarta berada di peringkat 6 besar kota global terpolusi, dengan AQI 156 (2 Oktober, 07.00 WIB) dan 119 (4 Oktober, 06.00 WIB).
Pekanbaru, Riau: AQI berkisar antara 152 hingga 219, masuk kategori TIDAK SEHAT. Asap karhutla menjadi penyebab utama.
Tangerang/Tangerang Selatan: AQI berada di kisaran 147 hingga 220, dengan rata-rata 163, yang juga TIDAK SEHAT. Salah satu stasiun di Serpong bahkan mencatat AQI 220.
Skala AQI IQAir dan Penyebab Utama
IQAir menggunakan skala AQI sebagai berikut:
- 0-50: Baik (Hijau)
- 51-100: Sedang (Kuning)
- 101-150: Tidak sehat bagi kelompok sensitif (Oranye)
- 151-200: Tidak sehat (Merah muda)
- 201-300: Sangat tidak sehat (Ungu)
- 301+: Berbahaya (Maroon hitam)
Konsentrasi PM2.5 yang diukur IQAir didasarkan pada partikel udara berbahaya yang dapat merusak paru-paru. Nilai ini dibandingkan dengan panduan WHO.
Penyebab utama memburuknya kualitas udara hari ini adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di Sumatera (Palembang, Jambi, Pekanbaru) dan Kalimantan (Pontianak). BMKG juga mengonfirmasi adanya titik api aktif di dekat area terdampak.
Rekomendasi Kesehatan
Mengingat kondisi kualitas udara yang buruk, IQAir dan BMKG merekomendasikan masyarakat untuk:
- Memantau aplikasi kualitas udara untuk peringatan real-time.
- Menutup pintu dan jendela, serta menggunakan mode resirkulasi pada sistem HVAC (pemanas, ventilasi, dan pendingin udara).
- Tetap berada di dalam ruangan jika kualitas udara buruk. Jika terpaksa keluar, gunakan masker N95 atau FFP2.
- Mengoperasikan pembersih udara berperforma tinggi dengan filter yang mampu menyaring partikel dan gas.
Data kualitas udara ini dipantau secara real-time dan diperbarui setiap jam, bersumber dari IQAir dan BMKG.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.