Kursi orang nomor dua di Polda Metro Jaya kini resmi berganti penghuni. Irjen Adex Yudiswan dipercaya memegang tongkat estafet sebagai Wakapolda Metro Jaya, menggantikan Irjen Dekananto Eko Purwono.
Mutasi besar-besaran ini tertuang dalam Surat Telegram Kapolri Nomor 2205/XKEP./2026 yang diteken pada 2 Oktober 2026.
Kehadiran Adex di Mapolda Metro Jaya bukan sekadar rotasi biasa, melainkan langkah strategis untuk memperkuat komando di wilayah dengan tingkat kerawanan dan dinamika tertinggi di Indonesia.
Pergeseran jabatan ini sekaligus menjadi babak baru bagi Adex. Ia kini menyandang pangkat jenderal bintang dua di pundaknya. Sebelumnya, ia adalah Dirtipidsiber Bareskrim Polri, posisi yang menuntut ketelitian tinggi dalam membedah kejahatan di ruang digital.
Kini, ia akan bekerja mendampingi Kapolda Metro Jaya yang berpangkat Komisaris Jenderal, sebuah komposisi kepemimpinan yang memperlihatkan betapa vitalnya posisi Polda Metro Jaya dalam struktur pengamanan nasional.
Rekam Jejak dari Rimba Latimojong
Nama Adex Yudiswan bukanlah pendatang baru di dunia reserse. Lulusan Akademi Kepolisian tahun 1996 ini sudah malang melintang dalam penugasan yang menguras fisik dan mental. Publik mungkin masih ingat bagaimana ia memimpin jajaran Polres Luwu di Sulawesi Selatan. Saat itu, ia menunjukkan bahwa polisi bukan cuma soal seragam rapi di kantor, tapi juga ketangguhan di balik lebatnya hutan.
Salah satu bukti ketangguhannya yang masih dibicarakan adalah saat memimpin pencarian pesawat Aviastar yang hilang kontak dalam rute Masamba-Makassar. Hutan Latimojong adalah medan maut. Medannya terjal. Cuacanya sering berubah drastis tanpa peringatan.
Selama dua hari penuh, Adex memutuskan untuk memimpin penyisiran langsung ke Pegunungan Bajaja. Ia bahkan tidak mempedulikan perutnya yang kosong demi memastikan tim bergerak cepat menemukan puing pesawat.
Sebuah foto ikonik sempat beredar dan menyentuh hati banyak orang saat itu. Dalam gambar tersebut, Adex terlihat menggendong jenazah bayi korban pesawat menggunakan kain sarung sederhana. Tangan satunya lagi memegang puing pesawat bertuliskan “Aviastar”. Pemandangan itu bukan sekadar momen dokumentasi, melainkan cerminan dari dedikasi seorang perwira yang rela turun ke lumpur demi kemanusiaan.
Tantangan Digital di Ibu Kota
Tugas di Jakarta jelas jauh berbeda dengan memimpin pencarian di pelosok Sulawesi. Sebagai Wakapolda, Adex kini menghadapi medan laga yang lebih kompleks. Ibu kota adalah pusat dari segala gejolak politik, ekonomi, dan sosial. Ancaman kejahatan pun tidak lagi hanya berbentuk fisik, namun sudah banyak bertransformasi menjadi ancaman siber yang canggih dan sulit dilacak.
Kombinasi pengalaman lapangan yang teruji di hutan rimba serta keahlian di bidang tindak pidana siber menjadi kartu as bagi Adex.
Ia paham betul bahwa keamanan ibu kota saat ini bergantung pada kecepatan Polri merespons isu-isu yang berkembang di media sosial maupun serangan siber terhadap infrastruktur vital. Transisi dari Bareskrim ke posisi Wakapolda menuntut kemampuan manajemen operasional yang tajam.
Ia harus mampu menterjemahkan kebijakan strategis menjadi aksi nyata di lapangan oleh ribuan personel Polda Metro Jaya.
Kini, dengan pangkat bintang dua yang baru saja melekat, tanggung jawab Adex bukan lagi sekadar menangkap pelaku kejahatan. Ia memegang kendali manajerial untuk memastikan Jakarta tetap kondusif di tengah tekanan mobilitas yang tinggi.
Ujian pertamanya adalah membuktikan bahwa perwira yang pernah menggendong korban di hutan belantara ini, juga mampu menjaga ketenangan jutaan warga di tengah hiruk-pikuk metropolitan.
Langkah selanjutnya bagi Adex adalah melakukan konsolidasi internal. Koordinasi solid dengan jajaran di bawahnya menjadi kunci utama untuk meredam potensi konflik dan menjaga stabilitas keamanan ibu kota tetap terkendali.
Jabatan baru ini bukan hanya tantangan karier, tapi juga pembuktian apakah reputasi lapangan yang ia bangun bertahun-tahun mampu beradaptasi dengan ritme ibu kota yang tak pernah tidur.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.