Rotasi besar terjadi di pucuk pimpinan Polda Sulawesi Barat. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menunjuk Irjen Totok Suharyanto untuk menduduki kursi Kapolda Sulbar, menggantikan Irjen Adi Deriyan Jayamarta. Pergantian ini resmi tertuang dalam Surat Telegram Kapolri Nomor: ST/2205/X/KEP./2026 yang diterbitkan awal Oktober 2026.
Irjen Adi Deriyan, yang telah menakhodai kepolisian di Bumi Manakarra selama satu tahun lebih, kini bakal bergeser tugas.
Ia tidak lagi berada di struktur operasional kepolisian daerah, melainkan akan mengemban amanah baru di Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH).
Tugas ini tergolong penugasan khusus, sebuah posisi strategis yang membutuhkan keahlian manajerial kepolisian dalam lingkup tata kelola lingkungan.
Kombes Memo Ardian, Kabid Humas Polda Sulbar, membenarkan adanya surat perintah tersebut. Sabtu (3/10/2026), ia menegaskan bahwa proses transisi jabatan akan segera bergulir dalam waktu dekat. Bagi warga Mamuju dan sekitarnya, nama Totok Suharyanto tentu bukan sosok asing bagi mereka yang memantau dinamika hukum di tingkat nasional.
Rekam Jejak Sang Penantang Korupsi
Sebelum menyeberang ke Sulbar, Irjen Totok Suharyanto merupakan komandan di Kortastipidkor Mabes Polri. Di sana, ia membangun reputasi sebagai polisi yang sangat tajam dalam urusan pemberantasan rasuah. Namanya kerap dikaitkan dengan aksi-aksi penggeledahan senyap yang membuahkan hasil besar.
Tim yang ia pimpin pernah menyisir dua belas lokasi sekaligus dalam satu rangkaian operasi, sebuah bukti bahwa Totok bukan tipe perwira yang suka bekerja setengah-setengah.
Ketegasannya paling terlihat saat ia memimpin penyidikan kasus korupsi yang menjerat Bupati Gowa, Husniah Talenrang. Penunjukan Totok sebagai tersangka dalam perkara tersebut sempat menghebohkan publik nasional.
Publik melihatnya sebagai figur yang berani menabrak dinding kekuasaan, bahkan saat berhadapan dengan kepala daerah yang masih menjabat. Reputasi inilah yang kemudian dibawa Totok ke tanah Sulawesi Barat.
Pengalaman panjang di unit tindak pidana korupsi tentu memberikan warna berbeda bagi Polda Sulbar. Biasanya, posisi Kapolda lebih banyak berurusan dengan stabilitas wilayah dan keamanan ketertiban masyarakat.
Namun, dengan latar belakang Totok, kepolisian di sana diprediksi bakal lebih agresif dalam mengawasi penggunaan anggaran daerah serta pengawasan ketat terhadap celah-celah kriminalitas kerah putih.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.