Langit malam di kawasan Jalan Gaharu, Gang Batako Nomor 12, Joglo, Kembangan, Jakarta Barat, mendadak berubah merah membara pada Senin malam, 28 September 2026. Suara ledakan menggelegar beberapa kali, memecah kesunyian lingkungan padat penduduk tersebut sebelum lidah api melahap habis sejumlah lapak usaha yang ada di lokasi.
Warga setempat, Basir, menjadi salah satu saksi mata yang mendengar rentetan ledakan itu dari jarak dekat. Suaranya cukup kencang, katanya. Ia sempat melihat api pertama kali muncul dari arah usaha mebel yang letaknya persis di titik awal kejadian.
Meski begitu, Basir mengaku belum bisa memastikan apakah pemicunya korsleting listrik atau faktor lain. “Tahu-tahu sudah membesar dari situ,” ujarnya singkat saat ditemui di lokasi kebakaran.
Beruntung, musibah ini tidak menelan korban jiwa maupun luka-luka. Saat api mulai mengamuk dan merembet ke bangunan di sekitarnya, area lapak mebel itu dalam keadaan kosong. Seluruh karyawan sedang berada di luar kota, sehingga tidak ada orang yang terjebak di dalam kepungan api.
Pengerahan Armada Damkar
Laporan mengenai kebakaran ini masuk ke meja Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Sudin Gulkarmat) Jakarta Barat pada pukul 19.53 WIB. Merespons panggilan darurat tersebut, Kepala Seksi Operasi Syaiful Kahfi langsung menerjunkan tim dengan pengerahan awal sebanyak delapan unit mobil pemadam beserta 40 personel.
Kondisi di lapangan ternyata lebih menantang dari dugaan awal. Material bangunan lapak yang mudah terbakar membuat api merambat cepat ke sekeliling. Melihat situasi tersebut, petugas memutuskan menambah kekuatan penuh agar si jago merah tidak merembet ke rumah warga yang lokasinya sangat berhimpitan. Sebanyak 11 unit armada dengan total 54 personel dikerahkan untuk mengepung titik api.
Kerja keras tim pemadam membuahkan hasil. Tepat pukul 20.17 WIB, Syaiful mengonfirmasi bahwa api berhasil dilokalisasi. Strategi penyekatan dilakukan agar api tidak meluas ke permukiman padat di belakang lapak. Meski api utama sudah padam, petugas tetap berjibaku melakukan proses pendinginan.
Mereka menyisir setiap tumpukan kayu dan puing untuk memastikan tidak ada bara tersembunyi yang bisa memicu kebakaran susulan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.