Selasa, 6 Oktober 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Moses/Reya jadikan laga pembuka sebagai tolok ukur level permainan

Pasangan ganda campuran junior Moses/Reya beraksi di lapangan bulu tangkis
Moses Andar Simanjuntak dan Reya Azzahra Yulianti saat berlaga di Cairo International Stadium. (Ilustrasi: AI)

Moses Andar Simanjuntak dan Reya Azzahra Yulianti langsung tancap gas di laga perdana BWF World Junior Team Championships 2026. Berdiri di atas karpet hijau Cairo International Stadium, Mesir, Senin kemarin, pasangan ganda campuran ini memikul tanggung jawab besar sebagai pembuka langkah skuad Indonesia di Grup C2.

Kemenangan telak atas Azerbaijan bukan cuma soal angka di papan skor. Bagi Moses dan Reya, duel kontra Azerbaijan adalah kalibrasi mental paling krusial untuk mengukur seberapa jauh kesiapan mereka di panggung dunia. Mereka memetakan kelebihan dan kekurangan secara instan, menyadari bahwa lawan-lawan tangguh sudah menunggu di babak berikutnya.

Uji Nyali di Arena Kairo

Kepercayaan tim pelatih untuk menunjuk mereka sebagai partai pembuka dibayar tuntas. Indonesia berhasil mengamankan poin penting dengan hasil meyakinkan lewat sistem relay. Moses mengakui, turun di laga pertama menuntut keberanian ekstra. Tidak ada ruang untuk gugup. Begitu shuttlecock pertama melayang, fokus harus seratus persen terkunci pada permainan.

Namun, tidak semua berjalan mulus tanpa hambatan. Moses menyoroti beberapa aspek teknis di lapangan yang memaksa mereka memutar otak lebih keras. Pencahayaan di Cairo International Stadium terasa cukup menyengat, ditambah karakteristik shuttlecock yang menuntut presisi tinggi saat melakukan pukulan. Belum lagi dimensi lapangan yang terasa lebih luas dibanding arena latihan biasa di tanah air.

“Ini bukan kendala besar, masih bisa kami atasi dengan penyesuaian teknis,” ungkap Moses singkat usai pertandingan. Ia sadar, atlet kelas dunia harus bisa membaca situasi dalam hitungan menit, bukan jam. Adaptasi adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.

Menakar Konsistensi Pola Permainan

Reya Azzahra punya pandangan senada. Bagi Reya, kendala teknis bukanlah masalah utama. Fokus yang sebenarnya justru terletak pada kestabilan pola permainan. Mengingat format kejuaraan dunia yang menuntut stamina dan mental baja, menjaga performa tetap stabil dari poin pertama hingga terakhir menjadi tantangan nyata.

“Semoga ke depannya bisa terus fokus dan bermain seperti tadi,” kata Reya. Kalimat itu bukan sekadar harapan, melainkan pengingat bagi dirinya sendiri untuk tidak cepat puas dengan hasil hari ini. Pasalnya, lawan yang akan dihadapi setelah Azerbaijan tentu punya kualitas yang jauh lebih matang dengan jam terbang internasional yang lebih tinggi.

Langkah Awal, Bukan Akhir

Kemenangan besar dengan skor 55-25 dan 55-11 dalam sistem relay ini adalah suntikan moral yang sangat dibutuhkan tim junior Indonesia. Meski mendominasi, tim pelatih tetap melakukan evaluasi mendalam. Kontrol hawa pertandingan dan ketenangan dalam situasi tertekan menjadi catatan yang akan terus dipoles selama sisa waktu turnamen.

Sistem relay yang diterapkan dalam format beregu ini memaksa setiap atlet untuk menjaga ritme. Sedikit saja lengah, lawan bisa memangkas jarak poin dengan cepat. Inilah yang diwaspadai oleh Moses dan Reya. Mereka sadar betul bahwa stabilitas adalah mata uang paling berharga untuk bisa melaju jauh di kejuaraan ini.

Kini, skuad Garuda Muda sudah menatap laga selanjutnya. Tidak ada perayaan berlebihan di ruang ganti.

Moses dan Reya memilih memfokuskan pikiran untuk membedah strategi lawan berikutnya, memastikan setiap rotasi dan pukulan telah terukur demi menjaga tiket Indonesia tetap aman di puncak klasemen Grup C2.

Perjalanan di Kairo baru saja dimulai, dan konsistensi adalah satu-satunya kunci yang mereka pegang erat untuk bertahan di kejuaraan elit ini.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda