Identitas baru JBL menempatkan kreator dan komunitas sebagai bagian dari cerita sebuah merek audio. Perusahaan memperkenalkan kampanye “Made to Be Heard” di Asia Pasifik, menandai perluasan arah komunikasinya saat merayakan ulang tahun ke-80.
JBL kini ingin mengaitkan audio bukan hanya dengan kualitas suara, tetapi juga dengan orang-orang yang menciptakan dan menikmati musik. Identitas itu diperkenalkan sebagai perubahan dari kampanye sebelumnya, “Dare to Listen”, yang selama tujuh tahun pada 2017–2024 mengajak konsumen melampaui batas dan menantang ekspektasi.
### Dari keberanian mendengar ke ruang berekspresi
Peralihan tersebut memperluas pesan lama JBL. Jika “Dare to Listen” menekankan keberanian mendengar sesuatu di luar kebiasaan, “Made to Be Heard” membawa perhatian pada ekspresi yang membutuhkan ruang dan perhatian. JBL menyatakan identitas baru ini mendukung kreator serta komunitas yang memberi makna pada pengalaman audio.
Perusahaan belum merinci dalam bahan yang tersedia bentuk program atau kegiatan khusus yang akan menyertai peluncuran di Asia Pasifik. Namun, arah pesannya jelas: merek audio itu ingin tampil dekat dengan budaya dan aktivitas yang tumbuh di sekitar musik, bukan hanya menawarkan perangkat untuk memutarnya.
Momentum peluncuran bertepatan dengan peringatan 80 tahun JBL. Riwayat panjang tersebut juga tercermin dalam lini produknya. JBL memiliki akar kuat di audio rumah kelas atas, meski banyak konsumen lebih mengenalnya lewat speaker Bluetooth. Perayaan ulang tahun ini turut diisi peluncuran speaker Summit Everest dan Summit K2, bagian dari generasi kelima Project Everest yang telah berkembang selama lebih dari 40 tahun.
### Produk ikut mengubah cara orang menikmati audio
Perluasan makna audio juga tampak pada perangkat yang diarahkan untuk keterlibatan pengguna. Di Korea Selatan, JBL memperkenalkan mikrofon EasySing dengan teknologi AI di perangkat yang dapat menghilangkan vokal lagu secara langsung. Pengguna bisa mengubah lagu yang diputar dari ponsel menjadi pengalaman karaoke tanpa mengandalkan aplikasi khusus atau trek pengiring terpisah, menurut laporan peluncuran produk tersebut.
Contoh itu menunjukkan audio sebagai aktivitas, bukan sekadar sesuatu yang didengar. Mikrofon EasySing menyasar kebutuhan kreator dan pasar konten pendek yang berkembang di YouTube dan TikTok. Sementara itu, pengenalan “Made to Be Heard” membawa pesan yang lebih luas ke tingkat merek: suara, ekspresi, dan komunitas menjadi bagian dari cara JBL menjelaskan perannya.
Peluncuran identitas di Asia Pasifik memberi JBL panggung untuk menyampaikan arah itu kepada konsumen kawasan. Rincian kampanye lokal belum dijabarkan dalam bahan yang tersedia, sehingga bentuk penerapannya di tiap pasar masih belum diketahui. Yang sudah ditegaskan perusahaan ialah pergeseran fokus dari ajakan untuk berani mendengar menuju dukungan bagi pihak-pihak yang ingin didengar.
Sumber: duniaku.idntimes.com

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.