Rabu, 7 Oktober 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Tangan Bionik Dikendalikan Otak, Teknologi untuk Amputasi

Tangan bionik dengan sensor otot membantu menggerakkan prostesis
Sensor pada rompi membaca kontraksi otot dada untuk menggerakkan tangan buatan. (Ilustrasi: AI)

Dampaknya terasa pada tugas sederhana yang sering menentukan kemandirian seseorang: mengambil benda dari permukaan, memegang objek berbentuk bulat, atau mengangkat barang tanpa harus terus bergulat dengan alat.

Bahan sumber tidak merinci biaya, ketersediaan, maupun apakah teknologi ini sudah dapat diakses pasien di Indonesia. Karena itu, kisah Sullivan menunjukkan potensi pendekatan tersebut, bukan bukti bahwa perangkatnya telah tersedia luas.

Kuiken mengatakan timnya saat itu memakai satu saraf untuk satu bagian otot demi memperoleh satu sinyal kendali. Padahal saraf yang dahulu menuju tangan membawa perintah lebih rumit, termasuk untuk menggerakkan jari dan ibu jari. Ia melihat pemrosesan sinyal yang lebih maju sebagai salah satu jalan untuk memperluas kendali prostesis.

“Kami senang dengan apa yang sudah kami capai, tetapi ada potensi untuk melakukan lebih baik,” ujar Kuiken. Pernyataan itu menggambarkan batas sekaligus arah pengembangan: sinyal yang kini menghasilkan gerakan dasar mungkin kelak dapat dimanfaatkan untuk kendali yang lebih rinci, tetapi sumber tidak menyebut bahwa kemampuan lanjutan itu sudah tercapai.

Eksperimen lain membaca aktivitas otak

Tom Bearden juga melaporkan penelitian Miguel Nicolelis, neurolog di Duke, yang mengambil pendekatan berbeda. Timnya melewati sistem otot dan meneliti aktivitas neuron secara langsung pada monyet. Elektroda dengan kabel tipis dipasang pada permukaan otak, lalu dihubungkan ke komputer.

Dalam percobaan itu, monyet belajar memakai joystick untuk menggerakkan kursor menuju sasaran pada layar. Komputer merekam hubungan antara aktivitas otak dan gerakan tangan. Perangkat lunak kemudian menerjemahkan pola tersebut menjadi perintah untuk lengan robot.

Tantangannya, gerakan tidak dikendalikan oleh satu titik tunggal di otak. Aktivitas yang berkaitan dengan gerak tersebar dalam sistem motorik. Nicolelis menjelaskan, “Tidak ada satu lokasi pusat di otak tempat informasi ini disimpan atau dihitung.” Ia menyebut kemampuan membaca kerja rangkaian otak secara langsung sebagai gambaran yang sebelumnya sulit diperoleh.

Uji penting terjadi ketika joystick diputus. Monyet mula-mula tetap menggerakkan tangannya, tetapi kursor tidak lagi merespons gerakan itu. Bahan sumber yang tersedia berhenti sebelum menjelaskan apa yang terjadi setelahnya, sehingga hasil lanjutan percobaan tidak dapat dipastikan dari laporan tersebut.

Dua pendekatan itu memperlihatkan jalur riset yang berbeda: satu memanfaatkan saraf dan otot untuk mengendalikan prostesis, sementara yang lain menerjemahkan aktivitas otak melalui komputer.

Dalam laporan Tom Bearden, Sullivan disebut sebagai orang pertama yang menerima cangkok saraf-otot semacam itu dan memakainya untuk mengendalikan anggota tubuh buatan. Ia dapat mengambil koin dari lantai atau meja dengan prostesis listrik.

Halaman:12Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kode Redeem Free Fire (FF) Hari Ini 7 Oktober 2026: Klaim Diamond & Skin Gratis