Minggu, 11 Oktober 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Rp 17,89 Triliun buat Jaga-jaga Jika Pasar Modal Kena Masalah

Dana Danantara untuk pasar modal Indonesia dan investasi saham
Danantara menyiapkan dana investasi domestik hingga akhir 2026, dengan keputusan pembelian tetap melalui uji tuntas. (Ilustrasi: AI)

Pasar saham Indonesia berisiko kembali tertekan jika statusnya diturunkan. Danantara menyiapkan dana hingga US$ 1 miliar atau sekitar Rp 17,89 triliun untuk berinvestasi di pasar modal domestik sampai akhir 2026, termasuk kemungkinan masuk ketika tekanan dinilai bersumber dari sentimen eksternal sementara.

JAKARTA — Kesiapan itu disampaikan Kepala Investasi Publik Danantara Investment Management Rani Piputri dalam wawancara yang dikutip Reuters, Sabtu (10/10/2026). Namun, Danantara tidak menjanjikan pembelian saham sebagai cara otomatis untuk menahan pelemahan pasar. Setiap langkah akan didahului uji tuntas dan pertimbangan nilai investasi.

Risikonya berkaitan dengan penilaian MSCI terhadap pasar modal Indonesia. Jika lembaga itu menurunkan klasifikasi Indonesia bulan depan, IHSG berpotensi kembali mendapat tekanan, setelah sebelumnya aksi jual terjadi menyusul peringatan MSCI pada Januari.

Dana Danantara bukan tombol penahan IHSG

Rani mengatakan Danantara dapat mempertimbangkan pembelian ketika tekanan pasar dianggap hanya berasal dari sentimen eksternal yang sementara. Ia menekankan bahwa keputusan itu bergantung pada penilaian investasi, bukan semata-mata keinginan mengangkat indeks.

“Jika terjadi krisis di pasar, dan kami merasa bahwa itu hanya berdasarkan sentimen eksternal yang bersifat sementara… maka kami mungkin akan turun tangan,” ujar Rani, dikutip Reuters.

Ia juga mengatakan Danantara mulai menempatkan dana di pasar modal domestik sejak akhir tahun lalu. Investasi tetap berjalan saat IHSG tertekan akibat aksi jual setelah peringatan MSCI pada Januari. Danantara terbuka untuk kembali berinvestasi jika peringkat Indonesia berubah bulan depan, tetapi Rani menyebut pemeriksaan menyeluruh tetap diperlukan.

“Kami mungkin akan turun tangan. Mungkin saja… tetapi ada banyak uji tuntas yang harus kami lakukan,” kata Rani.

Pembedaan ini penting bagi investor. Dana yang disiapkan bukan kepastian bahwa Danantara akan membeli saham tertentu saat pasar turun. Rani menggambarkan keputusan sebelumnya sebagai pembelian berdasarkan nilai yang terlihat pada aset, bukan sebagai program untuk menstabilkan pasar.

Strategi itu berarti potensi dukungan terhadap pasar bergantung pada hasil analisis investasi dan harga yang tersedia.

Alokasi investasi dan kehati-hatian pada saham AI

Danantara saat ini telah mengalokasikan sekitar US$ 3 miliar atau sekitar Rp 53,67 triliun untuk investasi saham dan obligasi, baik di dalam maupun luar negeri. Dari keseluruhan portofolio yang dikelola, 65% ditempatkan pada saham, 30% pada instrumen pendapatan tetap, dan 5% pada dana lindung nilai. Sekitar seperempat portofolio berada di Indonesia.

Lembaga ini mengelola mandat aset negara sekitar US$ 900 miliar yang tersebar di lebih dari 1.000 perusahaan. Danantara juga berwenang memanfaatkan dividen untuk mengoptimalkan hasil investasi. Skala mandat itu membuat pilihan alokasi dan standar kehati-hatian lembaga berpengaruh pada cara dana negara ditempatkan, meski bahan sumber tidak menyebut perusahaan atau saham tertentu yang akan dibeli.

Rani menilai eksposur portofolio terhadap kecerdasan buatan sudah dilakukan dengan hati-hati. Danantara tidak menganggap AI sebagai gelembung yang akan segera pecah, tetapi ingin memasuki sektor itu secara cermat karena merasa terlambat. Ia juga menilai kekhawatiran investor terhadap gelembung dapat membantu menjaga pasar tetap terkendali.

“Kami tidak berpikir (AI) adalah gelembung dan kami tidak berpikir itu akan meledak, tetapi kami hanya ingin berhati-hati memasuki bidang ini karena kami agak terlambat,” tutur Rani.

Sikap tersebut memberi gambaran bahwa rencana investasi tidak hanya menyasar peluang saat harga saham melemah. Danantara juga menimbang risiko pada sektor yang mendapat perhatian besar, termasuk AI. Bagi pasar domestik, keputusan lembaga ini dapat menjadi sentimen, tetapi besaran dana yang disiapkan tidak dengan sendirinya menjamin perubahan arah IHSG.

Target imbal hasil dan pembahasan dividen

Managing Director Global Relations & Communications BPI Danantara Pahala Mansury mengatakan dana investasi ditargetkan menghasilkan imbal hasil 200-300 basis poin di atas biaya modal. Sebagai acuan, biaya modal itu tercermin dalam obligasi dolar AS Danantara bertenor lima tahun yang diterbitkan pada Juni lalu dengan imbal hasil 5,35%.

Angka tersebut menunjukkan bahwa keputusan investasi juga dinilai dari target hasil terhadap biaya pendanaan. Dengan demikian, kemungkinan pembelian ketika pasar tertekan tetap harus sejalan dengan perhitungan imbal hasil, bukan hanya pertimbangan sentimen atau pergerakan indeks.

Soal dividen, dana Rp 120 triliun yang sebelumnya disebut akan disetorkan kepada pemerintah tahun ini berpotensi ditahan. Pahala mengatakan Danantara masih berdiskusi dengan Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengenai pengelolaan dana tersebut dan belum menyampaikan keputusan akhir.

“Kami sedang berdiskusi dengan Menteri Keuangan (yang baru) Suahasil. Sejauh ini indikasi yang kami dapatkan adalah kami masih dapat mengelola dividen, tetapi tentu saja kami masih akan menunggu keputusan akhir,” kata Pahala.

Di tingkat daerah, pasar modal juga terus tumbuh melalui aktivitas investor. Antara melaporkan BEI Bengkulu menargetkan nilai transaksi pasar modal di provinsi itu mencapai Rp7 triliun hingga akhir 2026, dengan rata-rata transaksi bulanan di kisaran Rp600 miliar.

Data yang dikutip Antara mencatat investor pasar modal nasional mencapai 31,1 juta hingga Agustus 2026, sementara di Bengkulu terdapat 10,8 ribu investor.

Angka Bengkulu itu memberi konteks bahwa pembicaraan tentang ketahanan pasar tidak hanya menyangkut indeks nasional atau keputusan pengelola dana besar. Perluasan partisipasi investor daerah juga bergantung pada pemahaman risiko, sebagaimana disampaikan OJK Bengkulu dalam laporan Antara. Sementara itu, Danantara masih menunggu keputusan akhir terkait dividen Rp 120 triliun.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair