Senin, 12 Oktober 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

CEO DBS Ungkap Kekhawatiran AI Perlebar Kesenjangan antara Si Kaya dan Si Miskin

CEO DBS Ungkap Kekhawatiran AI Perlebar Kesenjangan antara Si Kaya dan Si Miskin
CEO DBS Ungkap Kekhawatiran AI Perlebar Kesenjangan Si Kaya dan Si Miskin

SINGAPURA — Kecerdasan buatan berisiko memperlebar jarak ekonomi antara kelompok kaya dan miskin jika adopsinya tidak merata. CEO DBS Tan Su Shan menyampaikan kekhawatiran itu saat berbicara tentang perkembangan AI.

Peringatannya menyoroti taruhan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: siapa yang lebih dulu mendapat manfaat dari teknologi baru, dan siapa yang tertinggal. Bahan sumber tidak merinci waktu maupun forum pernyataan Tan.

AI dan kesenjangan ekonomi jadi perhatian

Tan mengatakan perkembangan AI dapat memperlebar ketimpangan ekonomi apabila tidak ada upaya untuk mendukung adopsi teknologi secara merata. Pernyataan itu menempatkan akses sebagai persoalan penting, bukan sekadar kemampuan perusahaan mengembangkan atau memakai perangkat AI.

Dalam bahan yang dikutip Katadata, Tan tidak merinci kelompok yang paling berisiko tertinggal, bentuk dukungan yang diperlukan, ataupun ukuran dampak ekonominya. Karena itu, kekhawatiran tersebut perlu dibaca sebagai peringatan tentang risiko, bukan sebagai laporan bahwa AI telah terbukti memperbesar kesenjangan.

Perbedaan akses dapat memengaruhi siapa yang mampu menggunakan teknologi untuk bekerja atau menjalankan usaha. Jika pemanfaatan AI hanya terjangkau sebagian perusahaan dan pekerja, manfaatnya berpotensi terkumpul pada kelompok yang sudah memiliki sumber daya. Namun, sumber tidak menyebut data untuk mengukur seberapa besar kemungkinan dampak itu.

Adopsi teknologi yang merata jadi kunci

Pesan utama Tan adalah perlunya upaya mendukung adopsi AI secara merata. Artinya, pembahasan tidak berhenti pada kecanggihan teknologi. Perhatian juga tertuju pada bagaimana manfaatnya dapat dijangkau lebih luas agar kelompok dengan sumber daya terbatas tidak otomatis tertinggal.

Bagi masyarakat dan dunia usaha, isu ini menyangkut pembagian peluang. Perusahaan yang dapat mengadopsi AI mungkin memperoleh manfaat dari teknologi, sementara pekerja dan pelaku usaha yang sulit mengaksesnya berisiko tidak menikmati peluang yang sama.

Bahan sumber tidak menguraikan dampak spesifik terhadap pekerjaan, sektor usaha, atau kebijakan tertentu, sehingga hal-hal itu belum dapat dipastikan dari pernyataan yang tersedia.

Untuk Indonesia, peringatan tersebut relevan sebagai pertanyaan yang perlu dijawab dalam pembahasan adopsi teknologi: apakah akses dan manfaat AI menjangkau kelompok yang beragam, bukan hanya pihak yang lebih siap? Namun, pernyataan Tan yang dikutip sumber membahas risiko secara umum; sumber tidak memuat data khusus Indonesia atau rekomendasi kebijakan untuk pemerintah Indonesia.

Tan tidak memaparkan langkah lanjutan atau program tertentu dalam bahan yang tersedia. Perhatian berikutnya tertuju pada upaya nyata yang dapat mendukung adopsi AI lebih merata, agar teknologi itu tidak memperlebar kesenjangan ekonomi.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kode Redeem FC Mobile Terbaru Hari Ini 12 Oktober 2026: Klaim Pack & Coins Gratis