SINGAPURA — Nasabah kaya di Indonesia mulai memperluas investasi ke luar tema akal imitasi (AI), termasuk ke sektor keuangan, kesehatan, dan energi. Tren investasi nasabah kaya ini disampaikan DBS Bank dalam acara DBS Asia Future Forward 2026 (AFFC) Regional Media Roundtables di Singapura, Minggu (11/10).
Group Head of Consumer Banking and Wealth Management DBS Bank Shee Tse Koon mengatakan, nasabah tetap menaruh minat pada obligasi pemerintah dan reksa dana. Mereka juga mempertimbangkan produk yang terkait pergerakan nilai tukar mata uang serta asuransi.
“Cukup banyak nasabah yang berinvestasi pada obligasi pemerintah Indonesia. Namun, kami juga memiliki nasabah yang berinvestasi pada berbagai reksa dana di platform kami,” kata Tse Koon.
Nasabah mulai memperluas portofolio di luar AI
Minat terhadap investasi AI masih besar. Namun, menurut Tse Koon, sebagian klien DBS mulai mempertimbangkan sektor lain ketika menyusun portofolio. Perubahan itu bukan berarti meninggalkan AI sepenuhnya, melainkan menambah ragam aset dan bidang investasi.
“Saat ini, dunia secara umum tengah membicarakan investasi terkait AI. Jadi, tidak mengherankan jika ada minat yang cukup besar terhadap hal ini. Namun belakangan ini, klien mulai mendiversifikasi di luar tema AI semata. Bukan dari 100 menjadi nol. Namun, saran yang diberikan mendorong investor untuk mulai melakukan diversifikasi,” ujarnya.
Pergeseran ini penting bagi nasabah karena keputusan investasi tidak lagi hanya soal memilih satu produk yang sedang ramai. Ketika portofolio mencakup beberapa instrumen dan sektor, nasabah memiliki pilihan yang lebih luas dalam menyesuaikan pengelolaan kekayaan dengan kebutuhan masing-masing. DBS menyebut pendekatan tersebut sebagai bagian dari layanan yang melampaui produk investasi tradisional.
Untuk nasabah di Indonesia, pilihan yang disebut DBS mencakup obligasi pemerintah, reksa dana, produk terkait mata uang, asuransi, ekuitas, obligasi, derivatif, serta aset di pasar privat. Ketersediaan beragam produk memberi ruang untuk menyusun portofolio dengan komposisi berbeda, meski bahan yang disampaikan bank tidak merinci alokasi atau rekomendasi untuk tiap nasabah.
Bisnis pengelolaan kekayaan dan pertumbuhan AUM
Tse Koon menilai bisnis pengelolaan kekayaan DBS di Indonesia memiliki posisi kuat dibanding bank internasional lain yang dianggapnya setara. Klaim itu disampaikan dalam wawancara acara di Singapura, bukan sebagai peringkat independen.
“Dibandingkan dengan pemain yang relatif setara, yakni bank internasional di Indonesia, menurut saya kami berada di posisi nomor satu dalam bisnis pengelolaan kekayaan,” kata Tse Koon.
Menurut dia, posisi tersebut ditopang kelengkapan produk yang ditawarkan, dari ekuitas dan obligasi hingga reksa dana, derivatif, serta aset pasar privat. Ragam pilihan itu menjadi bagian dari strategi DBS dalam melayani kebutuhan pengelolaan kekayaan nasabah.
Data di laman resmi DBS Indonesia menunjukkan, DBS Treasures Private Client mencatat pertumbuhan total aset kelolaan atau asset under management (AUM) 13% secara tahunan pada Semester I 2026. Rata-rata AUM per nasabah meningkat 15% pada periode yang sama.
Total income tumbuh 34%. Kenaikan itu didorong Investment Fee Income yang meningkat 65%, sementara Net Profit After Tax (NPAT) bertumbuh 24%. Angka tersebut menggambarkan kinerja bisnis pengelolaan kekayaan DBS di Indonesia, tetapi tidak dengan sendirinya menunjukkan hasil investasi setiap nasabah.
Target AUM DBS pada 2030
DBS Bank menargetkan AUM mencapai S$ 1 triliun atau Rp 13.970 triliun di seluruh pasar pada 2030, dengan kurs Rp 13.970 per S$. Bank asal Singapura itu menyebut pengembangan AI, perluasan kemitraan ekosistem, serta investasi berkelanjutan pada talenta dan teknologi sebagai tumpuan untuk mengejar sasaran tersebut.
Target itu menempatkan pengelolaan kekayaan sebagai salah satu fokus bisnis DBS, sementara nasabah menghadapi semakin banyak pilihan instrumen dan tema investasi. Bagi investor, perkembangan berikutnya akan terlihat dari bagaimana bank mengembangkan layanan dan pilihan produk, serta bagaimana nasabah menyesuaikan portofolio di luar minat besar terhadap AI.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.