Selasa, 13 Oktober 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

IHSG Anjlok ke Level 5.936, Kapitalisasi Pasar Tergerus Jadi Rp 10.426 T

IHSG anjlok saat layar perdagangan saham memerah di bursa Indonesia
Tekanan jual meluas saat IHSG ditutup melemah pada perdagangan Senin. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — IHSG anjlok 157,61 poin atau 2,59 persen ke level 5.936,14 pada penutupan perdagangan Senin (12/10), sementara kapitalisasi pasar saham turun menjadi Rp 10.426,08 triliun. Tekanan meluas: lebih banyak saham melemah daripada menguat, dan saham-saham berkapitalisasi besar ikut terkena aksi jual.

Data perdagangan yang disampaikan dalam bahan utama mencatat 602 saham turun, 114 saham menguat, dan 77 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp 13,73 triliun dengan volume 62,18 miliar saham.

IHSG anjlok di tengah tekanan eksternal

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, mengaitkan pelemahan indeks dengan kenaikan yield obligasi Amerika Serikat dan penguatan dolar AS. Kondisi itu mendorong investor asing melakukan jual bersih, terutama pada saham berkapitalisasi besar.

Investor juga menahan minat pada aset berisiko sambil menunggu kepastian data ekonomi AS dan arah suku bunga Federal Reserve. Nafan menjelaskan, “Sikap investor yang menanti kepastian data ekonomi AS dan arah suku bunga The Fed turut menahan minat terhadap aset berisiko.”

Koreksi terjadi setelah IHSG ditutup di level 6.093,76 pada Jumat (9/10), ketika indeks menguat 1,04 persen, menurut informasi pembanding dari CNBC Indonesia.

Perbedaan arah dalam dua sesi itu memperlihatkan perubahan sentimen yang cepat; angka transaksi dan volume untuk Senin dalam sumber pembanding Katadata berbeda dari bahan utama, sehingga artikel ini menggunakan data perdagangan dari sumber utama.

Investor menimbang risiko dan peluang koreksi

Katadata juga melaporkan sejumlah saham dari kelompok usaha besar mengalami penurunan tajam pada perdagangan Senin. Namun, sumber utama tidak merinci saham-saham tersebut. Karena itu, gambaran yang dapat dipastikan dari data yang tersedia adalah luasnya tekanan jual, bukan rincian kinerja tiap emiten.

Dampaknya terasa pada nilai portofolio investor yang terpapar saham-saham di Bursa Efek Indonesia, terutama ketika pelemahan menyebar ke ratusan saham.

Bagi pelaku pasar, pergerakan indeks juga menjadi pengingat bahwa sentimen global—dari dolar AS hingga ekspektasi suku bunga—dapat memengaruhi aset domestik, sementara perubahan nilai kapitalisasi mencerminkan penyusutan nilai pasar saham secara agregat.

Nafan menyarankan strategi pembelian bertahap pada saham dengan fundamental kuat yang sedang terkoreksi. Saran itu disampaikan sebagai pendekatan menghadapi volatilitas, bukan kepastian bahwa harga saham akan segera pulih.

Prospek jangka pendek masih dibayangi sejumlah agenda. Riset BRI Danareksa Sekuritas menyoroti ketidakpastian geopolitik Timur Tengah dan pertemuan IMF serta Bank Dunia yang berlangsung pada 12 hingga 18 Oktober 2026.

Pelaku pasar juga menunggu data inflasi AS dan China serta neraca perdagangan China yang dijadwalkan rilis Rabu (14/10). Hasilnya dapat memengaruhi pembacaan pasar terhadap arah suku bunga global, rupiah, dan prospek permintaan komoditas. Untuk investor domestik, faktor-faktor itu menjadi konteks penting saat menilai apakah tekanan jual hanya berlangsung singkat atau berlanjut.

Di tengah ketidakpastian itu, Nafan tetap mengarahkan perhatian pada kualitas emiten. Ia menyarankan investor menerapkan “strategi pembelian bertahap (accumulate buy) pada saham berfundamental kuat yang sedang terkoreksi.”

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair