JAKARTA — IHSG diproyeksi menguat ke 6.180 pada pembukaan perdagangan Senin, 12 Oktober 2026, setelah sentimen negatif dari konflik di Timur Tengah mulai mereda. Pergerakan harga minyak dan rupiah menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi tekanan inflasi serta saham-saham di Bursa Efek Indonesia.
Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan indeks bergerak di rentang 6.180-6.267. Namun, MNC Sekuritas melihat peluang pergerakan yang lebih beragam: IHSG berpotensi melemah ke 5.850-5.911 atau menguat menuju 6.227-6.231.
Pada penutupan Jumat, 9 Oktober, IHSG naik 62,47 poin atau 1,04 persen ke level 6.093,759. Proyeksi yang berbeda untuk perdagangan berikutnya menunjukkan investor masih menghadapi tarik-menarik antara harapan meredanya risiko global dan kemungkinan koreksi teknikal.
Minyak melandai, tekanan global berkurang
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menyebut sentimen menjelang perdagangan Senin berada dalam kategori cautiously optimistic. Ia mengatakan indikator fundamental dalam negeri menopang pasar, sementara sentimen negatif global mulai mereda.
“Adapun sentimen bagi IHSG menyongsong perdagangan Senin, 12 Oktober 2026 berada dalam kategori cautiously optimistic, ditopang oleh beberapa indikator fundamental dalam negeri serta sentimen negatif dari global yang mulai mereda,” kata Nafan dalam keterangannya, Senin (12/10).
Investor global, menurut Nafan, mencermati pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa Amerika Serikat tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu paruh waktu yang mulai 3 November 2026. Perkembangan itu meredakan kekhawatiran geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Harga minyak mentah Brent kemudian melandai 0,29 persen menjadi USD 104,42 per barel. Jika penurunan harga energi berlanjut, tekanan inflasi berpotensi berkurang. Kondisi itu juga dapat memberi ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter yang lebih akomodatif pada 28 Oktober 2026. Probabilitas suku bunga tetap tercatat 82,3 persen.
Dampaknya bagi pasar Indonesia bergantung pada kelanjutan tren tersebut. Minyak yang lebih rendah dapat membantu meredakan tekanan biaya energi, sedangkan penguatan saham global berpotensi memperbaiki sentimen investor. Namun, Nafan menyampaikan peluang sentimen eksternal positif itu dengan syarat harga minyak terus melandai dan saham global terus menguat.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.