Selasa, 13 Oktober 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Pengguna Chatbot AI di AS Masih Minoritas, 51 Persen Menolak

Pengguna Chatbot AI di AS Masih Minoritas, 51 Persen Menolak
Pengguna Chatbot AI di AS Masih Minoritas, 51 Persen Menolak

JAKARTA — Bagi perusahaan yang mengembangkan layanan AI, separuh warga dewasa AS belum menjadi pengguna chatbot. Survei Pew Research Center menemukan 51 persen orang dewasa di Amerika Serikat tidak pernah memakai chatbot, dan kebanyakan dari mereka belum berminat untuk mulai menggunakannya.

Penolakan itu bukan terutama soal tak paham cara memakai teknologi. Pew mendapati kurang dari sepertiga nonpengguna menyebut ketidaktahuan sebagai alasan utama. Dua pertiga dari mereka juga mengatakan kecil kemungkinan akan memakai chatbot dalam 12 bulan ke depan.

Pengguna chatbot AI berbeda menurut usia

Kelompok berusia 65 tahun ke atas paling jarang menggunakan chatbot. Sekitar tiga perempat responden dalam kelompok usia ini mengatakan tidak pernah memakainya.

Namun, jarak antargenerasi tidak hanya terlihat pada kelompok tertua. Sebanyak 58 persen orang dewasa berusia 50 hingga 64 tahun juga tidak menggunakan chatbot. Di antara warga berusia 18 hingga 29 tahun, yang paling sering memakai teknologi ini, sepertiganya tetap mengatakan tidak pernah menggunakannya.

Secara umum, sekitar empat dari sepuluh orang dewasa di bawah usia 50 tahun mengaku sama sekali tidak memakai chatbot. Angka itu menegaskan bahwa penggunaan yang lebih tinggi di kalangan muda belum berarti chatbot sudah menjadi kebiasaan bagi semua orang dalam kelompok tersebut.

Pengguna hanya unggul tipis atas mereka yang tidak pernah memakai chatbot. Dengan 51 persen orang dewasa mengaku tidak menggunakannya, pengguna masih menjadi kelompok minoritas di AS—meski selisihnya kecil.

Kurang minat jadi alasan utama tidak memakai chatbot

Data Pew menggeser dugaan bahwa orang menghindari chatbot karena kesulitan teknis. Kurang dari sepertiga nonpengguna menyebut tidak tahu cara menggunakan teknologi itu sebagai alasan besar. Kekhawatiran mengenai penilaian orang lain juga tampaknya bukan penghalang utama: kurang dari satu dari lima responden mencemaskannya.

Temuan ini penting bagi penyedia layanan AI. Menambah fitur atau membuat antarmuka lebih mudah belum tentu cukup untuk mendorong orang mencoba chatbot, jika persoalan utamanya adalah mereka memang tidak tertarik. Bagi pengguna layanan digital, angka tersebut juga menunjukkan bahwa pemakaian chatbot yang ramai dibicarakan tidak otomatis mencerminkan kebiasaan mayoritas warga.

Pew turut mencatat perbedaan menurut ras dan etnis. Dalam surveinya, orang kulit putih, kulit hitam, atau Hispanik lebih mungkin termasuk nonpengguna dibandingkan orang Asia. Bahan survei yang tersedia tidak merinci angka untuk masing-masing kelompok, sehingga perbandingan ini tidak menunjukkan besarnya selisih.

Mayoritas nonpengguna belum berniat mencoba

Minat untuk berubah dalam waktu dekat juga rendah. Dua pertiga nonpengguna, atau 67 persen, mengatakan mereka kecil kemungkinan memakai chatbot dalam 12 bulan berikutnya. Sebanyak 40 persen menyatakan mereka sama sekali tidak mungkin mengubah keputusan.

Di antara yang belum menggunakan chatbot, 12 persen masih ragu. Hanya 5 persen yang merasa kemungkinan besar akan mencoba teknologi tersebut dalam setahun mendatang.

Survei itu tidak memastikan penyebab orang kehilangan minat atau memilih menjauh. Bahan yang mengutip temuan Pew menyebut kemungkinan pengalaman buruk dengan chatbot, termasuk Tay milik Microsoft yang dikenal karena respons rasisnya sekitar satu dekade lalu.

Contoh lain yang disebut adalah layanan resmi America.gov dari pemerintahan Trump, yang saat bahan ditulis masih menampilkan gambar hotdog ketika pengguna mengetik kata itu ke kolom perintah.

Contoh tersebut memberi gambaran tentang bagaimana keluaran yang keliru atau tidak pantas dapat memengaruhi kepercayaan, tetapi survei tidak menyatakan bahwa pengalaman itu menjadi alasan utama responden menolak chatbot. Alasan yang paling menonjol dalam temuannya tetap kurangnya minat, bukan ketidakmampuan menggunakan teknologi.

Untuk saat ini, mayoritas nonpengguna belum menunjukkan tanda akan beralih. Perubahan angka penggunaan dalam 12 bulan mendatang akan memperlihatkan apakah sikap itu bertahan atau mulai bergeser.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kode Redeem FC Mobile Terbaru Hari Ini 13 Oktober 2026: Klaim Pack & Coins Gratis