Selasa, 13 Oktober 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

WHO: Penyebab Pneumonia yang Tewaskan Peneliti Laboratorium Anti-Pes Siberia Masih Misterius

Pneumonia peneliti Siberia jadi perhatian setelah karantina dilakukan
Area laboratorium penelitian anti-pes di Siberia setelah kasus pneumonia yang menewaskan seorang peneliti. (Ilustrasi: AI)

Kasus pneumonia di sebuah laboratorium anti-pes Siberia memicu karantina dan kekhawatiran di media sosial. Namun, WHO menyatakan penyebab penyakit yang menewaskan peneliti Rusia itu belum diketahui dan belum ada bukti penularan berkelanjutan.

Dalam pernyataan pada Sabtu (10/10/2026), Organisasi Kesehatan Dunia menyebut tidak ada kasus pes yang tercatat terkait kejadian tersebut. Pemeriksaan terhadap peneliti dan orang-orang yang pernah berkontak dengannya juga menunjukkan hasil negatif untuk patogen berisiko tinggi yang diperiksa.

Peneliti berusia 28 tahun, Darya Shipilova, bekerja di Institut Penelitian Anti-Pes Irkutsk. Ia jatuh sakit dan meninggal dunia pada 2 Oktober dalam kondisi yang tidak diungkapkan. Pihak berwenang kemudian mengarantina sekitar 200 orang.

WHO belum mendapat diagnosis terkonfirmasi

Ketidakpastian utama dalam kasus ini adalah belum adanya diagnosis yang memastikan penyebab pneumonia Shipilova. Tanpa diagnosis tersebut, kaitan penyakitnya dengan tempat kerja maupun kemungkinan sumber infeksi belum dapat dipastikan berdasarkan informasi yang disampaikan WHO.

“Berdasarkan informasi yang diberikan, WHO belum menemukan bukti adanya penularan berkelanjutan yang terkait dengan peristiwa ini. Salah satu ketidakpastian utama adalah belum adanya diagnosis yang terkonfirmasi pada petugas laboratorium yang meninggal dunia tersebut,” demikian pernyataan WHO, sebagaimana dilansir TRT.

WHO juga mengutip informasi dari badan regulator negara Rusia bahwa orang-orang yang pernah berkontak dengan Shipilova tetap tidak menunjukkan gejala. Tidak ada kasus pneumonia berat tambahan yang teridentifikasi terkait kejadian itu.

Temuan tersebut memberi gambaran bahwa hingga pernyataan WHO diterbitkan, penyelidikan belum menemukan tanda penyebaran yang berlanjut. Namun, ketiadaan bukti penularan bukan berarti penyebab kematian sudah diketahui. Kedua hal itu berbeda: satu menyangkut apakah penyakit menyebar ke orang lain, sementara yang lain menyangkut diagnosis pada pasien yang meninggal.

Pemeriksaan belum menunjukkan patogen berisiko tinggi

Pihak berwenang Rusia menyatakan Shipilova telah menerima vaksinasi sebagaimana mestinya. Mereka juga mengatakan tidak menemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan pekerjaannya di dalam tubuhnya.

Hasil negatif yang disebut WHO terbatas pada patogen berisiko tinggi yang diperiksa. Karena penyebab pneumonia belum terkonfirmasi, informasi itu belum menjelaskan secara pasti apa yang membuat Shipilova jatuh sakit. Bahan yang disampaikan WHO juga tidak merinci kondisi medisnya sebelum meninggal.

Kabar kematian seorang pekerja di pusat penelitian anti-pes mudah memunculkan kekhawatiran, terutama karena laboratorium tersebut berkaitan dengan penyakit menular. Karantina sekitar 200 orang menambah perhatian terhadap kemungkinan paparan.

Namun, menurut informasi yang dikutip WHO, kontak Shipilova tidak menunjukkan gejala dan tidak ada pneumonia berat tambahan yang diketahui berkaitan dengan kejadian ini.

Bagi masyarakat, perbedaan antara kekhawatiran dan bukti menjadi penting. Informasi yang tersedia belum mendukung kesimpulan bahwa pes menyebar atau terjadi penularan berkelanjutan. Pada saat yang sama, penyebab kematian Shipilova masih belum terjawab, sehingga pernyataan resmi tidak bisa dibaca sebagai kepastian tentang sumber penyakit.

WHO menyampaikan penilaiannya berdasarkan informasi yang diberikan, termasuk keterangan regulator Rusia. Laporan TRT menjadi sumber pemberitaan atas pernyataan tersebut. Sampai saat itu, belum ada diagnosis terkonfirmasi yang menjelaskan pneumonia yang dialami peneliti tersebut.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kalender Jawa Hari Ini 13 Oktober 2026: Weton, Pasaran, Neptu & Karakter Karir