Gangguan distribusi itu beriringan dengan peningkatan permintaan Pertalite. Menurut Simon, jarak harga antara BBM bersubsidi dan nonsubsidi mendorong lebih banyak masyarakat memilih Pertalite. Ketika pasokan terlambat dan permintaan bertambah pada waktu yang sama, antrean di SPBU pun memanjang.
Dampaknya terasa langsung bagi warga yang perlu mengisi kendaraan untuk kegiatan harian. Waktu tunggu meningkat, sementara pengisian di SPBU yang ramai ikut menambah tekanan pada distribusi lokal. Pengoperasian selama 24 jam, tambahan armada, dan pengawalan mobil tangki menjadi upaya untuk memperbaiki aliran pasokan, bukan sekadar menambah stok di depo.
Simon menyebut operator lapangan akan ditambah melalui koordinasi dengan Hiswana Migas serta unsur TNI dan Polri. Penambahan petugas ditujukan untuk membantu pelayanan dan mengurangi kelelahan pekerja SPBU. Pertamina memperkirakan antrean dapat teratasi dalam dua hingga tiga hari dengan percepatan yang sedang dilakukan.
Koster mengimbau warga agar tidak mendatangi SPBU secara bersamaan. Ia menegaskan masyarakat tidak perlu mengisi BBM pada hari dan jam yang sama karena pasokan tersedia dan distribusi sedang dipercepat.
Pertamina juga akan berkoordinasi dengan BPH Migas untuk membahas penggunaan barcode BBM bersubsidi dalam situasi darurat. Simon mengatakan langkah layanan berikutnya akan mengikuti arahan pemerintah, seraya menekankan, “yang terpenting adalah pelayanan kita kepada masyarakat.”

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.