JOHOR — Masuknya Sultan Ibrahim Iskandar ke perusahaan tambang yang tengah membidik logam tanah jarang memberi perhatian baru pada ekspansi sektor mineral Malaysia. Ia membeli 2,25 persen saham Southern Alliance Mining Ltd. senilai SGD 6,1 juta, menurut pernyataan perusahaan yang dikutip Bloomberg.
Transaksi itu dilakukan saat Southern Alliance mengembangkan bisnis di luar tambang bijih besi, termasuk mengejar proyek logam tanah jarang di Johor. Saham tersebut dibeli dari Direktur Pelaksana Pek Kok Sam dengan harga SGD 0,425 per saham.
Perusahaan menyampaikan transaksi itu pada Senin malam. Harga pembelian tersebut hampir 12 persen di atas harga penutupan hari Senin, sedangkan saham Southern Alliance naik 10,5 persen menjadi SGD 0,42 di Singapura pada Selasa pagi.
Transaksi saham bukan aksi korporasi perusahaan
Southern Alliance menegaskan bahwa perusahaan bukan pihak dalam pengalihan saham dan tidak menerima hasil dari transaksi tersebut. Dengan demikian, dana pembelian tidak masuk ke kas perusahaan untuk membiayai operasional atau proyek mineralnya.
Perusahaan juga menyatakan pengalihan kepemilikan itu tidak mengubah manajemen, kegiatan operasional, maupun arah strategis. Pek tetap menjadi pemegang saham pengendali dengan kepemilikan langsung sebesar 55,74 persen.
Perbedaan ini penting bagi investor yang mengikuti ekspansi perusahaan. Pembelian saham oleh Sultan Ibrahim mengubah komposisi pemegang saham, tetapi menurut keterangan perusahaan, tidak disertai perubahan kendali ataupun suntikan dana baru ke Southern Alliance.
Ekspansi Southern Alliance ke logam tanah jarang
Southern Alliance selama ini dikenal sebagai penambang bijih besi yang tercatat di bursa Singapura. Perusahaan mempertahankan kegiatan tambangnya di Johor melalui Chaah Mine dan sedang mencari peluang pengembangan sumber daya mineral di Malaysia.
Pada September 2025, Southern Alliance mengakuisisi 40 persen saham MCRE Resources. Perusahaan itu bermitra dengan China Rare Earth Corp. untuk menjalankan operasi penambangan logam tanah jarang di negara bagian Perak.
Ekspansi lain yang sedang diupayakan adalah akuisisi Paramount Synergy Sdn Bhd untuk proyek mineral langka di Johor. Rencana tersebut menambah pijakan Southern Alliance di negara bagian yang juga menjadi wilayah asal Sultan Ibrahim.
Logam tanah jarang menjadi fokus karena Malaysia ingin membangun posisi yang kompetitif secara global dalam industri tersebut. Minat terhadap sektor ini datang dari perusahaan tambang dan pengolah asing, sementara proyek-proyek baru dapat memperluas kegiatan perusahaan lokal.
Minat investor dan proyek asing di Malaysia
Malaysia menjadi lokasi operasi Lynas Rare Earths Ltd dari Australia. Bloomberg menyebut perusahaan itu sebagai salah satu dari hanya dua produsen utama di luar China.
Di dalam negeri, konglomerat Berjaya Corp Bhd. juga menjajaki proyek terkait logam tanah jarang. Sementara itu, Carester SAS dari Prancis berencana membangun pabrik pemisahan di bagian utara Perak melalui usaha patungan dengan Malaco Mining Group dari Malaysia.
Rangkaian proyek tersebut memberi gambaran bahwa pengembangan industri tidak berhenti pada kegiatan menggali mineral. Pengolahan dan pemisahan menjadi bagian dari upaya membangun rantai usaha logam tanah jarang di Malaysia. Bagi Southern Alliance, proyek di Perak dan rencana di Johor menandai langkah perusahaan untuk memperluas fokus bisnisnya dari bijih besi.
Sultan Ibrahim memiliki kepentingan bisnis di berbagai sektor, termasuk real estat, telekomunikasi, dan infrastruktur, terutama melalui kepemilikan saham di sejumlah perusahaan. Ia juga pernah menjabat selama lima tahun sebagai raja Malaysia, dalam sistem monarki bergilir yang melibatkan sembilan penguasa turun-temurun.
Bloomberg melaporkan perwakilan istana nasional Malaysia belum segera menanggapi permintaan komentar pada Selasa. Southern Alliance menyatakan pengalihan saham tidak mengubah arah perusahaan, sementara Pek tetap memegang 55,74 persen kepemilikan langsung.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.