NEW YORK — Jim Cramer memperingatkan investor agar tidak meninggalkan pasar saham hanya karena gejolak dan sinyal ekonomi yang saling bertentangan. Dalam tayangan “Mad Money” pada Rabu, ia mengatakan investor yang menjual saham sekarang berisiko melewatkan reli berikutnya.
Peringatan itu muncul setelah saham-saham melemah. S&P 500 turun sedikit lebih dari 1 persen, Nasdaq merosot 1,9 persen, sementara Dow Jones Industrial Average ditutup sedikit lebih rendah. Kondisi ini membuat investor harus menimbang risiko kerugian jangka pendek dan kemungkinan tidak sempat masuk kembali saat pasar pulih.
Cramer menilai inflasi, suku bunga, dan perang dengan Iran membuat arah pasar sulit diperkirakan. “Anda hanya ingin membuang semuanya dan pulang,” kata pembawa acara CNBC itu. Namun, ia mengingatkan bahwa keputusan keluar dari pasar dapat membuat investor kehilangan hari-hari perdagangan yang menyumbang sebagian besar kenaikan.
Risiko melewatkan hari terbaik
Data historis yang dikutip JPMorgan memperlihatkan besarnya risiko itu. Investor yang menanamkan US$10.000 di S&P 500, tetapi melewatkan 10 hari perdagangan terbaik antara 2005 dan 2024, akan berakhir dengan kekayaan kurang dari separuh dibanding investor yang tetap berinvestasi penuh.
Angka tersebut menjadi alasan Cramer meminta investor berhati-hati sebelum menjual seluruh kepemilikan saham. Pasar bisa bergerak tajam dalam waktu singkat, sementara hari-hari dengan kenaikan terbesar sulit diketahui sebelumnya. Investor yang berhasil menghindari penurunan lanjutan tetap dapat tertinggal ketika pemulihan terjadi.
“Jika Anda melakukannya, apakah Anda bisa membeli kembali tepat waktu untuk 10 hari dalam setahun ketika semua kenaikan terjadi? Saya rasa tidak,” ujar Cramer.
Inflasi dan suku bunga memberi sinyal campur aduk
Laporan inflasi pada Rabu menjadi contoh ketidakpastian yang ia soroti. Harga konsumen naik 0,6 persen pada September dibanding bulan sebelumnya, sedikit lebih tinggi dari perkiraan. Imbal hasil Treasury awalnya naik setelah data itu keluar, lalu berbalik turun meski harga minyak terus meningkat.
Biasanya, inflasi yang lebih tinggi mendorong imbal hasil naik karena investor memperkirakan Federal Reserve akan menaikkan suku bunga lebih agresif. Namun, pergerakan setelah laporan tersebut tidak mengikuti pola itu secara lurus. Sinyal yang bertentangan membuat pelaku pasar sulit memperkirakan langkah bank sentral AS berikutnya.
Kenaikan suku bunga tambahan dapat memperlambat ekonomi. Sebaliknya, jika suku bunga ditahan, biaya pinjaman jangka panjang berisiko meningkat. Cramer mengatakan berakhirnya perang dengan Iran dapat menekan harga minyak secara tajam dan membantu meredakan inflasi tanpa langkah tambahan dari Federal Reserve.
Bagi investor, ketidakpastian ini bukan hanya soal perubahan harga saham harian. Arah suku bunga dan biaya energi dapat memengaruhi keputusan perusahaan maupun ongkos pinjaman. Namun, bahan yang tersedia tidak menunjukkan bahwa satu skenario tertentu sudah pasti terjadi; pasar masih bereaksi terhadap perkembangan ekonomi dan geopolitik.
Laba perusahaan belum memberi kepastian
Laporan keuangan perusahaan pun belum cukup untuk memberi petunjuk yang jelas. Morgan Stanley mencatat kinerja kuartalan yang dinilai cukup baik, tetapi saham bank investasi itu tetap turun hampir 3 persen.
ASML, perusahaan pembuat peralatan semikonduktor, melaporkan laba kuat dan permintaan yang meningkat. Sahamnya sempat naik pada awal perdagangan, lalu berbalik dan ditutup turun 4 persen, seiring pelemahan luas sektor cip.
Pergerakan itu memperlihatkan bahwa hasil perusahaan yang kuat tidak otomatis mengangkat saham ketika sentimen pasar sedang rapuh. Cramer mengatakan kondisi tersebut membuat investor sulit memiliki keyakinan kuat terhadap arah berikutnya. “Menjadi sangat sulit untuk memiliki keyakinan,” ujarnya.
Meski begitu, ia tidak menganjurkan investor menyerah sepenuhnya pada saham. Keputusan untuk keluar mungkin terasa memberi perlindungan saat harga turun, tetapi dapat membawa risiko lain: kehilangan kesempatan ketika reli datang. Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada data ekonomi, perkembangan perang dengan Iran, dan langkah Federal Reserve.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.