Presiden AS Donald Trump mengingatkan semua belah pihak untuk menghentikan pertempuran, memanfaatkan momentum negosiasi damai AS-Iran yang dilaporkan sudah sangat dekat mencapai titik terobosan. Dalam pesan di Truth Social, Trump mengatakan kesepakatan awal bisa ditandatangani hari Minggu dan mengimbau semua pihak “tidak membuatnya rusak” dengan melanjutkan serangan. Namun, realitas lapangan menunjukkan eskalasi terus meningkat: Israel baru saja menyerang Beirut, Iran membalas dengan ancaman serangan balasan, dan Hezbollah meluncurkan drone ke wilayah Israel.
Ketegangan terpusat pada pertanyaan apakah Iran dan sekutu regionalnya—terutama Hezbollah di Lebanon—akan menerima gencatan senjata sementara negosiasi berlangsung, atau justru memanfaatkan fase sensitif ini untuk menunjukkan kekuatan militer mereka.
Serangan Israel Provokasi di Saat Kritis Diplomasi
Israel melakukan operasi udara terhadap infrastruktur Hezbollah di lingkungan Dahiyeh, Beirut, pada Minggu (14 Juni). Serangan itu menewaskan tiga orang sipil dan datang tepat saat negosiasi AS-Iran sedang berlangsung, memicu reaksi keras dari pemimpin dunia.
PBB Sekjen Antonio Guterres menyatakan kecaman tegas. “Saya sangat mengecam serangan Israel hari ini di Beirut,” katanya di X. “Serangan terjadi meskipun ada gencatan senjata dan pada waktu AS dan Iran diperkirakan akan mencapai kesepakatan yang membuka jalan menuju penyelesaian konflik secara damai.”
Guterres mendesak semua pihak menunjukkan “pengendalian diri maksimal pada momen krusial ini” dan mengharapkan “hasil yang sukses.” Pernyataannya mencerminkan kekhawatiran internasional bahwa eskalasi militer bisa menggagalkan peluang dialog yang langka.
Sebelum serangan Beirut, tiga drone diluncurkan dari Lebanon ke wilayah utara Israel dekat perbatasan, tanpa ada korban jiwa dilaporkan. Hezbollah diyakini menjadi dalang peluncuran ini, sebagai respons terhadap aktivitas militer Israel di perbatasan.
Iran: “Siap Bales, Jangan Buat Kesalahan”
Saat Beirut terkena serangan, pemimpin militer Iran berbicara dengan nada ancaman. Jenderal Besar Ali Abdollahi, komandan Markas Pusat Khatam al-Anbiya, menyatakan pasukannya “mempunyai jari di atas pemicu” dan siap memberikan “pelajaran yang tak terlupakan dan final” jika Israel membuat “kesalahan terkecil.”
“Kami menunggu kesalahan terkecil dari musuh agresif untuk mengajarkan mereka pelajaran yang tak terlupakan dan final,” dikutip berita negara Iran.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.