Trump juga mengatakan negosiasi saat ini bisa menghasilkan “damai yang panjang dan indah,” dan mengingatkan semua belah pihak untuk tidak “merusak” momentum ini dengan melanjutkan eskalasi.
Namun, optimisme Trump berbenturan dengan dinamika di lapangan. Israel belum menunjukkan tanda-tanda mengurangi operasi di Lebanon—justru, tentara Israel mengeluarkan peringatan evakuasi untuk penduduk 16 desa di Lebanon selatan, mengisyaratkan preparasi untuk operasi lebih lanjut. Sementara itu, Iran dan sekutu regionalnya tampak tidak bersedia berdiam diri demi negosiasi yang belum final.
Konteks Lebih Luas: Gencatan Senjata Lebanon Jadi Isu Utama
Negosiasi AS-Iran bukan hanya tentang program nuklir atau kesepakatan strategis bilateral. Isu Lebanon dan Hezbollah menjadi komponen krusial, dan kedua belah pihak punya visi berbeda tentang apa yang dimaksud “gencatan senjata.”
Iran secara konsisten menekankan bahwa setiap kesepakatan harus mencakup penghentian operasi militer Israel di Lebanon selatan. Posisi ini didorong oleh fakta bahwa Hezbollah—organisasi yang didukung Iran secara militer dan finansial—menghadapi tekanan berat dari operasi Israel.
Sebaliknya, politisi sayap jauh dalam pemerintah Israel telah mendorong respons yang lebih keras terhadap peluncuran drone Hezbollah, termasuk operasi udara lebih lanjut di Beirut. Ini menciptakan dinamika yang sulit bagi Trump: jika AS berhasil mendesak Israel mundur, akan ada tekanan domestik Israel yang kuat. Jika AS tidak mampu, Iran akan menganggap AS tidak serius tentang komitmen diplomasi.
Pernyataan Qalibaf mencerminkan ketakutan Iran tepat ini—bahwa AS mungkin tidak memiliki pengaruh atau niat untuk menahan Israel dari tindakan agresif lebih lanjut.
Kronologi Eskalasi Minggu Lalu
Ketegangan saat ini adalah puncak dari spiral eskalasi yang dimulai minggu lalu. Iran meluncurkan rudal balistik ke arah Israel, kata-katanya adalah respons atas serangan Israel yang ditargetkan pada pemimpin militer Iran. Israel kemudian membalas dengan serangan ke fasilitas militer Iran.
Serangan Beirut hari Minggu ini menunjukkan bahwa eskalasi tidak mereda seiring berjalannya negosiasi, melainkan justru berlanjut di jalur paralel—sementara diplomat berbicara, tentara terus beroperasi.
Prediksi Ke Depan dan Tantangan
Jika Trump mengumumkan kesepakatan awal hari Minggu seperti yang dilaporkan, kesepakatan itu hanya langkah pertama. Tantangan nyata adalah implementasi dan penerimaan dari semua pemain regional.
Hezbollah dan elemen militer Iran yang hardline telah menunjukkan bahwa mereka tidak akan didiamkan hanya karena perundingan berlangsung. Iran sebagai negara mungkin berkomitmen pada dialog (seperti yang ditunjukkan Pezeshkian), tetapi komandan militer dan organisasi proksi regional memegang veto de facto atas jalannya eskalasi.
Setiap serangan Israel baru menghadirkan tekanan pada Iran untuk membalas dan mempertahankan kredibilitas deterrensi regionalnya. Sementara itu, setiap respons Iran atau Hezbollah mendorong Israel lebih jauh untuk operasi pencegahan preemptif. Siklus ini akan sulit diputus hanya melalui pernyataan Trump atau Pezeshkian—diperlukan mekanisme verifikasi, pengawasan, dan komitmen konkret dari semua pihak.
Dengan garis waktu penandatanganan kesepakatan awal di hari Minggu yang sama saat terjadi serangan Beirut, momentum diplomatik menjelang ujian paling serius. Trump mengatakan semua pihak harus “tidak membuatnya rusak”—tetapi risiko nyata adalah eskalasi militer justru menjadi cara semua pihak membuktikan seriusnya posisi mereka di meja negosiasi.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.