Senin, 29 Juni 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Kampanye pengaruh Iran di X incar warga AS dan deal nuklir

Kampanye pengaruh Iran di X incar warga AS dan deal nuklir
Kampanye pengaruh Iran di X disebut makin agresif, menyasar opini publik Amerika Serikat sekaligus menggoyang dorongan Presiden Donald Trump untuk mencapai k…. (Ilustrasi: AI)

WASHINGTON — Kampanye pengaruh Iran di X disebut makin agresif, menyasar opini publik Amerika Serikat sekaligus menggoyang dorongan Presiden Donald Trump untuk mencapai kesepakatan nuklir baru. Laporan Fox News Digital pada Minggu, 29 Juni 2026, memuat analisis sejumlah ahli yang menilai Teheran kini memakai media sosial Barat sebagai medan tempur utama.

Di saat warga Iran masih dibatasi akses internetnya, elite rezim justru leluasa berbicara ke audiens luar negeri. Celah itu, kata para ahli, dimanfaatkan untuk membangun citra, menekan lawan politik, dan menyampaikan pesan yang dibuat agar mudah dibagikan di X.

Kampanye pengaruh Iran bergeser ke ruang publik digital

Dr. Omar Mohammed, pakar kontra-terorisme dari George Washington Program on Extremism, mengatakan rezim Iran kini hidup di X karena kepemimpinannya terpukul berat. “Iran’s leadership now lives on X because it is a decapitated leadership,” ujarnya kepada Fox News Digital.

Menurut Mohammed, para pejabat Iran tidak lagi punya panggung fisik yang stabil untuk berbicara ke publik. Akibatnya, komunikasi mereka dipadatkan menjadi kalimat pendek, tajam, dan siap di-screenshot. “There are English, screenshot-ready lines, memeable contempt and civilizational pride,” kata dia.

Bahasanya sengaja dibuat serang langsung. Pesan seperti itu tidak bekerja seperti pernyataan diplomatik biasa. Ia bekerja seperti amunisi digital: cepat beredar, gampang dikutip, dan efektif memancing emosi.

Mohammed juga menilai pola unggahan para pejabat Iran kini sangat terkoordinasi. Ia menyebut beberapa kalimat yang sama repost dalam hitungan menit oleh pejabat kehakiman, wakil presiden, dan Dewan Keamanan. “That is a central media shop pushing copy,” katanya.

Artinya, menurut dia, konten itu tidak lahir dari reaksi spontan masing-masing pejabat. Ada pusat kendali. Ada naskah. Ada tujuan.

Targetnya bukan cuma Washington

Mohammed menilai Teheran tidak melihat Amerika Serikat sebagai satu blok tunggal. Mereka membaca Washington sebagai dua pusat kekuasaan, lalu menyasar keduanya dengan nada berbeda. Satu sisi ingin mempermalukan kesepakatan yang diklaim Trump sebagai pencapaian politik. Sisi lain berbicara dalam bahasa multipolaritas yang lebih dekat dengan pandangan Wakil Presiden, menurut penjelasan Mohammed.

Strategi itu terasa jelas setelah Trump menandatangani kesepakatan damai baru pada 17 Juni di Versailles. Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut aset Iran yang dibekukan akan dipakai untuk membeli produk pertanian Amerika, termasuk kedelai, gandum, dan jagung.

Gedung Putih melalui Departemen Keuangan, tulis Trump, akan melepaskan aset Iran ke rekening escrow yang dikendalikan Amerika Serikat dan digunakan khusus untuk pembelian makanan serta obat-obatan dari AS. Ia menyebut kebutuhan itu amat mendesak bagi Iran.

Tidak lama setelah itu, Ketua negosiator Iran Mohammad Bagher Ghalibaf membalas lewat X. Ia mengejek klaim tersebut sebagai “trash talks”. Dalam unggahannya, Ghalibaf menulis bahwa yang mereka panen hanyalah “apa yang Anda tanam: puluhan tahun ketidakpercayaan”.

Mohammed menafsirkan ejekan soal kedelai GMO dan janji yang rusak sebagai serangan yang diarahkan tepat ke Trump. “Tehran gains if it can discredit the deal the president is selling,” ujarnya. Logikanya sederhana. Jika publik melihat kesepakatan itu memalukan atau rapuh, posisi politik Trump ikut terganggu.

Kenapa propaganda digital ini berbahaya

Yang membuat kampanye pengaruh Iran di X terasa serius bukan cuma isi pesannya. Ada ketimpangan struktural yang besar. Di dalam negeri, warga Iran menghadapi pembatasan internet ketat. Di luar negeri, pejabat rezim punya akses penuh ke platform global untuk menguji narasi, memancing simpati, atau menyulut polarisasi.

Alp Toker, pendiri dan direktur firma pemantau internet NetBlocks, menyebut rezim seperti Iran telah belajar memakai media sosial, kecerdasan buatan, dan sensor internet sebagai alat perang informasi asimetris. “These regimes are learning to combine social media, AI and internet censorship as tools for asymmetric information warfare,” katanya kepada Fox News Digital.

Menurut Toker, situasi itu melahirkan sistem dua tingkat. Pejabat pemerintah bebas memakai platform, sementara rakyatnya sendiri dibatasi. “It’s a double-edged sword — you get more open politics at the cost of regime propagandization,” ujarnya.

Kalimat itu penting. Media sosial memang membuka ruang debat yang lebih luas. Tapi ruang yang sama juga bisa dipakai untuk propaganda negara, terutama ketika algoritma lebih suka konten yang memicu amarah daripada penjelasan yang rapi.

Kasus Iran juga menunjukkan bagaimana perang informasi modern tidak selalu datang dalam bentuk bot kasar atau akun palsu. Kadang ia tampil sebagai pejabat resmi, kutipan yang rapi, atau sindiran yang terasa “lucu” bagi audiens tertentu. Satu unggahan bisa memengaruhi persepsi, walau tidak mengubah kebijakan secara langsung.

Bagi pembaca, pelajarannya dekat. Narasi politik lintas negara kini tidak lagi berhenti di konferensi pers atau meja perundingan. Ia meluncur lewat unggahan singkat, meme, dan balasan yang sengaja dibuat tajam. Lalu berpindah dari layar ke opini publik. Cepat sekali.

Fox News Digital melaporkan, para analis melihat pergeseran ini sebagai adaptasi rezim yang tertekan. Setelah kepemimpinan senior Iran banyak tersingkir dan penerus baru bersembunyi, ruang digital dipakai untuk menambal lubang legitimasi. Bukan solusi permanen. Tapi cukup untuk bertahan, setidaknya di layar.

Dan di sinilah taruhannya. Jika kampanye pengaruh Iran di X berhasil menampilkan kesepakatan nuklir sebagai kegagalan, tekanan politik terhadap Washington bisa naik. Bila gagal, Teheran tetap sudah menunjukkan satu hal: perang pengaruh sekarang juga berlangsung di kolom unggahan, bukan cuma di meja diplomasi.

Di medan seperti ini, satu kalimat bisa lebih gaduh daripada satu konferensi pers. Dan satu balasan pedas bisa lebih cepat menyebar daripada penjelasan resmi yang panjang.

Ringkasan singkat

1. Kampanye pengaruh Iran di X dituding menyasar warga AS untuk melemahkan dukungan terhadap kesepakatan nuklir baru.

2. Para ahli menyebut Teheran memanfaatkan unggahan berbahasa Inggris yang mudah dibagikan, dengan koordinasi pusat yang rapi.

3. Ketimpangan akses internet di Iran dan kebebasan elite di platform global membuat perang informasi ini makin timpang.

FAQ singkat

Apa inti kampanye ini? Menyebarkan pesan politik di X untuk memengaruhi opini publik Amerika dan mengganggu posisi Donald Trump.

Siapa yang menilai demikian? Antara lain Dr. Omar Mohammed dari George Washington Program on Extremism dan Alp Toker dari NetBlocks, sebagaimana dilaporkan Fox News Digital.

Mengapa ini penting? Karena perang informasi kini ikut membentuk persepsi publik terhadap negosiasi nuklir dan kebijakan luar negeri AS.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda