Strategi itu terasa jelas setelah Trump menandatangani kesepakatan damai baru pada 17 Juni di Versailles. Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut aset Iran yang dibekukan akan dipakai untuk membeli produk pertanian Amerika, termasuk kedelai, gandum, dan jagung.
Gedung Putih melalui Departemen Keuangan, tulis Trump, akan melepaskan aset Iran ke rekening escrow yang dikendalikan Amerika Serikat dan digunakan khusus untuk pembelian makanan serta obat-obatan dari AS. Ia menyebut kebutuhan itu amat mendesak bagi Iran.
Tidak lama setelah itu, Ketua negosiator Iran Mohammad Bagher Ghalibaf membalas lewat X. Ia mengejek klaim tersebut sebagai “trash talks”. Dalam unggahannya, Ghalibaf menulis bahwa yang mereka panen hanyalah “apa yang Anda tanam: puluhan tahun ketidakpercayaan”.
Mohammed menafsirkan ejekan soal kedelai GMO dan janji yang rusak sebagai serangan yang diarahkan tepat ke Trump. “Tehran gains if it can discredit the deal the president is selling,” ujarnya. Logikanya sederhana. Jika publik melihat kesepakatan itu memalukan atau rapuh, posisi politik Trump ikut terganggu.
Kenapa propaganda digital ini berbahaya
Yang membuat kampanye pengaruh Iran di X terasa serius bukan cuma isi pesannya. Ada ketimpangan struktural yang besar. Di dalam negeri, warga Iran menghadapi pembatasan internet ketat. Di luar negeri, pejabat rezim punya akses penuh ke platform global untuk menguji narasi, memancing simpati, atau menyulut polarisasi.
Alp Toker, pendiri dan direktur firma pemantau internet NetBlocks, menyebut rezim seperti Iran telah belajar memakai media sosial, kecerdasan buatan, dan sensor internet sebagai alat perang informasi asimetris. “These regimes are learning to combine social media, AI and internet censorship as tools for asymmetric information warfare,” katanya kepada Fox News Digital.
Menurut Toker, situasi itu melahirkan sistem dua tingkat. Pejabat pemerintah bebas memakai platform, sementara rakyatnya sendiri dibatasi. “It’s a double-edged sword — you get more open politics at the cost of regime propagandization,” ujarnya.
Kalimat itu penting. Media sosial memang membuka ruang debat yang lebih luas. Tapi ruang yang sama juga bisa dipakai untuk propaganda negara, terutama ketika algoritma lebih suka konten yang memicu amarah daripada penjelasan yang rapi.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.