JAKARTA — ketimpangan Amerika terus melebar, sementara upaya membagi ulang kekayaan lewat pajak dan bantuan sosial justru berjalan setengah hati. Di negeri yang melahirkan para miliarder teknologi dan plutokrat baru, pertanyaan yang mengganjal tetap sama: apakah ada selera politik untuk redistribusi?
Ketimpangan Amerika bukan cerita baru
Gambaran ini bukan muncul tiba-tiba. Dalam tulisan Eduardo Porter yang dilaporkan The Guardian, ia menelusuri perjalanan panjang Amerika Serikat dalam menghadapi jurang pendapatan. Saat Barack Obama mendekati akhir masa jabatannya, Jason Furman, kala itu ketua dewan penasihat ekonomi presiden, menyebut pencapaian pemerintahannya sebagai “investasi terbesar untuk mengurangi ketimpangan sejak Great Society”.
Angka-angkanya memang bergerak. Pada akhir 2016, pajak dan transfer sosial memangkas porsi pendapatan yang mengalir ke 1 persen rumah tangga terkaya lebih dari seperlima, menurut estimasi Congressional Budget Office atau CBO. Di sisi lain, porsi pendapatan bagi seperlima rumah tangga termiskin naik dari 3,9 persen menjadi 7,9 persen. Itu yang tertinggi sejak setidaknya 1979.
Tapi catatan itu tidak bertahan lama. Begitu pemerintahan berganti, arah kebijakan ikut berubah. Dan jurang itu kembali terbuka.
Ketika pajak turun, yang di atas ikut naik
Donald Trump, yang kerap tampil sebagai pembela pekerja, memilih jalur berbeda. Undang-Undang Pemotongan Pajak dan Pekerjaan 2017 memberi keringanan besar kepada kelompok berpendapatan tinggi. Menjelang akhir masa jabatan pertamanya, porsi pendapatan yang diterima 1 persen rumah tangga terkaya setelah pajak dan transfer naik lagi ke 13,2 persen, dari 12,5 persen pada tahun Obama meninggalkan Gedung Putih.
Resesi akibat pandemi sempat mengubah hitungan. Paket stimulus Cares Act senilai 2,2 triliun dolar AS yang ditandatangani Trump membantu rumah tangga miskin. Pada 2020, porsi pendapatan nasional yang diterima seperlima rumah tangga termiskin mencapai 8,2 persen, level tertinggi dalam beberapa dekade. Tapi, menurut data CBO, angka itu turun lagi menjadi 7,4 persen pada 2022, tahun terakhir yang sudah dihitung.
Yang penting dari pola ini bukan sekadar siapa yang berkuasa. Polanya jauh lebih dalam. Amerika berulang kali menunjukkan ketidaksukaan pada pemindahan kekayaan melalui pajak yang besar dan progresif. Pajak tinggi bukan barang populer. Apalagi di puncak piramida.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.