Senin, 6 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Ketimpangan Amerika Menguat, Redistribusi Kian Sulit

Ilustrasi ketimpangan Amerika dan jurang kekayaan
Ketimpangan Amerika makin tajam. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — ketimpangan Amerika terus melebar, sementara upaya membagi ulang kekayaan lewat pajak dan bantuan sosial justru berjalan setengah hati. Di negeri yang melahirkan para miliarder teknologi dan plutokrat baru, pertanyaan yang mengganjal tetap sama: apakah ada selera politik untuk redistribusi?

Ketimpangan Amerika bukan cerita baru

Gambaran ini bukan muncul tiba-tiba. Dalam tulisan Eduardo Porter yang dilaporkan The Guardian, ia menelusuri perjalanan panjang Amerika Serikat dalam menghadapi jurang pendapatan. Saat Barack Obama mendekati akhir masa jabatannya, Jason Furman, kala itu ketua dewan penasihat ekonomi presiden, menyebut pencapaian pemerintahannya sebagai “investasi terbesar untuk mengurangi ketimpangan sejak Great Society”.

Angka-angkanya memang bergerak. Pada akhir 2016, pajak dan transfer sosial memangkas porsi pendapatan yang mengalir ke 1 persen rumah tangga terkaya lebih dari seperlima, menurut estimasi Congressional Budget Office atau CBO. Di sisi lain, porsi pendapatan bagi seperlima rumah tangga termiskin naik dari 3,9 persen menjadi 7,9 persen. Itu yang tertinggi sejak setidaknya 1979.

Tapi catatan itu tidak bertahan lama. Begitu pemerintahan berganti, arah kebijakan ikut berubah. Dan jurang itu kembali terbuka.

Ketika pajak turun, yang di atas ikut naik

Donald Trump, yang kerap tampil sebagai pembela pekerja, memilih jalur berbeda. Undang-Undang Pemotongan Pajak dan Pekerjaan 2017 memberi keringanan besar kepada kelompok berpendapatan tinggi. Menjelang akhir masa jabatan pertamanya, porsi pendapatan yang diterima 1 persen rumah tangga terkaya setelah pajak dan transfer naik lagi ke 13,2 persen, dari 12,5 persen pada tahun Obama meninggalkan Gedung Putih.

Resesi akibat pandemi sempat mengubah hitungan. Paket stimulus Cares Act senilai 2,2 triliun dolar AS yang ditandatangani Trump membantu rumah tangga miskin. Pada 2020, porsi pendapatan nasional yang diterima seperlima rumah tangga termiskin mencapai 8,2 persen, level tertinggi dalam beberapa dekade. Tapi, menurut data CBO, angka itu turun lagi menjadi 7,4 persen pada 2022, tahun terakhir yang sudah dihitung.

Yang penting dari pola ini bukan sekadar siapa yang berkuasa. Polanya jauh lebih dalam. Amerika berulang kali menunjukkan ketidaksukaan pada pemindahan kekayaan melalui pajak yang besar dan progresif. Pajak tinggi bukan barang populer. Apalagi di puncak piramida.

Kenapa redistribusi sulit jalan di Amerika

Porter menulis bahwa ketimpangan besar di Amerika bukan semata kesalahan Donald Trump. Ia adalah fitur yang bertahan lintas pemerintahan, baik Demokrat maupun Republik. Para ekonom di University of California, Berkeley, bahkan menemukan bahwa 400 orang Amerika terkaya membayar porsi pajak dari pendapatan mereka lebih kecil dibanding rata-rata warga biasa. Penyebabnya jelas: ada banyak celah untuk memindahkan aset, menunda pajak, dan menyusun struktur kekayaan agar tagihan fiskal mengecil.

Di sinilah persoalannya menjadi rumit. Banyak orang kaya di Amerika tidak hidup dari gaji besar, melainkan dari kenaikan nilai saham. Mereka bisa menerima penghasilan resmi yang rendah, lalu membiayai hidup dengan pinjaman yang dijamin saham. Saham itu tidak dijual, jadi pajak capital gain belum jatuh tempo. Saat diwariskan, unrealized capital gains atau keuntungan yang belum direalisasikan itu juga sering berpindah tanpa beban pajak besar. Dalam artikel Porter, aset seperti itu mencakup 55 persen dari harta warisan terbesar.

Satu kalimat yang menohok datang dari logika sistem itu sendiri: makin besar kekayaan, makin piawai cara menyembunyikan penghasilan kena pajak. Elon Musk, Steve Jobs, Mark Zuckerberg, Larry Ellison, hingga Larry Page menjadi contoh paling terang. Mereka bukan sekadar orang kaya. Mereka berada di atas sistem yang dirancang untuk melindungi akumulasi modal.

Elon Musk, pajak, dan ekonomi plutokrasi

Elon Musk, yang kini berada di pusat percakapan soal triliunan dolar kekayaan, disebut sebagai penerima untung dari kemakmuran Amerika yang timpang. ProPublica, dalam laporan investigasinya, menyebut kekayaan Musk naik 13,9 miliar dolar AS antara 2014 dan 2018, sementara pajak yang ia bayar atas pendapatan resmi hanya 455 juta dolar AS. Pada 2015, ia disebut membayar 68 ribu dolar AS pajak penghasilan federal. Tahun 2017, 65 ribu dolar AS. Tahun 2018, nihil.

Angka itu penting karena memperlihatkan bagaimana sistem bekerja untuk kelompok paling atas. Mereka bisa sangat kaya tanpa harus memiliki pendapatan kena pajak yang besar. Mereka punya aset yang terus naik nilainya. Mereka punya penasihat pajak. Mereka punya struktur perusahaan. Dan mereka punya waktu.

Itulah yang membuat istilah plutokrasi terasa makin relevan. Kekayaan besar bukan hanya membeli rumah, pulau, atau jet pribadi. Ia juga membeli pengaruh, perlindungan, dan kelonggaran. Dalam konteks seperti itu, redistribusi menjadi lebih dari sekadar kebijakan fiskal. Ia berubah menjadi pertarungan politik tentang siapa yang harus menanggung beban negara.

Apa artinya bagi pembaca biasa

Bagi warga biasa, cerita ini terasa dekat meski terjadi di Amerika. Di banyak negara, termasuk Indonesia, debat soal pajak progresif, bantuan sosial, dan pembiayaan layanan publik selalu berputar di pertanyaan yang sama: siapa yang membayar, siapa yang menerima, dan seberapa jauh negara boleh ikut campur. Ketika kekayaan menumpuk di puncak, ruang fiskal untuk sekolah, kesehatan, dan perlindungan sosial ikut menyempit jika kebijakan tidak mengejar ke atas.

Porter menutup analisanya dengan nada pesimistis. Upaya Obama, yang paling serius dalam lebih dari setengah abad, hari ini terlihat seperti gangguan kecil dalam sejarah panjang ketimpangan Amerika. Dan selama aset besar terus tumbuh lebih cepat ketimbang upah, ketimpangan Amerika akan tetap sulit dipatahkan.

Ke depan, pertanyaan utamanya bukan lagi apakah jurang itu ada. Itu sudah jelas. Yang lebih penting: apakah pemilih, parlemen, dan para kandidat mau mengambil langkah yang benar-benar mengganggu kenyamanan para pemilik modal besar.

Ringkasan singkat:

1. Ketimpangan Amerika tetap tinggi meski sempat ditekan lewat pajak dan transfer pada era Obama.

2. Kebijakan pajak Trump dan struktur kekayaan berbasis saham membuat redistribusi makin sulit.

3. Jika tren ini berlanjut, beban ketidakadilan ekonomi akan makin berat bagi kelas pekerja.

FAQ singkat:

Apa ukuran ketimpangan yang dipakai? Salah satunya Gini index, yang makin dekat ke 1 berarti makin timpang.

Kenapa orang superkaya bisa bayar pajak rendah? Karena banyak pendapatan mereka berbentuk kenaikan nilai aset, bukan gaji biasa.

Apa dampaknya bagi publik? Peluang redistribusi mengecil, sementara layanan sosial lebih sulit dibiayai secara adil.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda