Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Kampanye pengaruh Iran di X incar warga AS dan deal nuklir

Kampanye pengaruh Iran di X incar warga AS dan deal nuklir
Kampanye pengaruh Iran di X disebut makin agresif, menyasar opini publik Amerika Serikat sekaligus menggoyang dorongan Presiden Donald Trump untuk mencapai k…. (Ilustrasi: AI)

WASHINGTON — Kampanye pengaruh Iran di X disebut makin agresif, menyasar opini publik Amerika Serikat sekaligus menggoyang dorongan Presiden Donald Trump untuk mencapai kesepakatan nuklir baru. Laporan Fox News Digital pada Minggu, 29 Juni 2026, memuat analisis sejumlah ahli yang menilai Teheran kini memakai media sosial Barat sebagai medan tempur utama.

Di saat warga Iran masih dibatasi akses internetnya, elite rezim justru leluasa berbicara ke audiens luar negeri. Celah itu, kata para ahli, dimanfaatkan untuk membangun citra, menekan lawan politik, dan menyampaikan pesan yang dibuat agar mudah dibagikan di X.

Kampanye pengaruh Iran bergeser ke ruang publik digital

Dr. Omar Mohammed, pakar kontra-terorisme dari George Washington Program on Extremism, mengatakan rezim Iran kini hidup di X karena kepemimpinannya terpukul berat. “Iran’s leadership now lives on X because it is a decapitated leadership,” ujarnya kepada Fox News Digital.

Menurut Mohammed, para pejabat Iran tidak lagi punya panggung fisik yang stabil untuk berbicara ke publik. Akibatnya, komunikasi mereka dipadatkan menjadi kalimat pendek, tajam, dan siap di-screenshot. “There are English, screenshot-ready lines, memeable contempt and civilizational pride,” kata dia.

Bahasanya sengaja dibuat serang langsung. Pesan seperti itu tidak bekerja seperti pernyataan diplomatik biasa. Ia bekerja seperti amunisi digital: cepat beredar, gampang dikutip, dan efektif memancing emosi.

Mohammed juga menilai pola unggahan para pejabat Iran kini sangat terkoordinasi. Ia menyebut beberapa kalimat yang sama repost dalam hitungan menit oleh pejabat kehakiman, wakil presiden, dan Dewan Keamanan. “That is a central media shop pushing copy,” katanya.

Artinya, menurut dia, konten itu tidak lahir dari reaksi spontan masing-masing pejabat. Ada pusat kendali. Ada naskah. Ada tujuan.

Targetnya bukan cuma Washington

Mohammed menilai Teheran tidak melihat Amerika Serikat sebagai satu blok tunggal. Mereka membaca Washington sebagai dua pusat kekuasaan, lalu menyasar keduanya dengan nada berbeda. Satu sisi ingin mempermalukan kesepakatan yang diklaim Trump sebagai pencapaian politik. Sisi lain berbicara dalam bahasa multipolaritas yang lebih dekat dengan pandangan Wakil Presiden, menurut penjelasan Mohammed.

Halaman:123Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda