Kamis, 15 Oktober 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Wall Street Memerah, Saham AI Berguguran dan Ada Tekanan Inflasi AS

Wall Street melemah saat saham AI tertekan inflasi AS
Pergerakan Wall Street tertekan saham AI dan data inflasi AS. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Wall Street ditutup melemah pada Kamis (15/10), saat saham-saham AI tertekan dan inflasi Amerika Serikat pada September tercatat lebih tinggi dari perkiraan. Tekanan itu menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa suku bunga tinggi dapat bertahan lebih lama, terutama bagi perusahaan teknologi yang membutuhkan pembiayaan besar.

Laporan pembanding Kumparan, dengan mengutip Reuters, mencatat pelemahan bursa pada Rabu (14/10). Perbedaan tanggal penutupan antara bahan utama dan laporan pembanding tidak dapat dipastikan dari informasi yang tersedia. Namun, keduanya sama-sama mengaitkan tekanan pasar dengan data inflasi AS dan penurunan saham teknologi serta AI.

Inflasi dan suku bunga menekan saham AI

Data harga konsumen AS pada September melampaui perkiraan. Menurut laporan Departemen Tenaga Kerja AS yang dikutip Kumparan, kenaikan itu dipicu lonjakan harga bensin. Angka inflasi rinci tidak dicantumkan dalam bahan yang tersedia.

Inflasi yang lebih kuat dapat membuat pelaku pasar memperkirakan Federal Reserve akan menaikkan suku bunga lagi. Kekhawatiran tersebut penting bagi saham AI: perusahaan di sektor ini kerap membutuhkan dana untuk mengembangkan pusat data dan infrastruktur komputasi, sehingga biaya pinjaman menjadi salah satu pertimbangan investor.

Pasar membaca risiko itu dengan cepat. Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada bulan tersebut naik menjadi 37 persen dari sebelumnya 22 persen, menurut laporan Kumparan. Itu adalah perubahan ekspektasi pasar, bukan keputusan resmi bank sentral.

Efeknya terasa. Saham teknologi memimpin penurunan, sementara investor menimbang ulang harga perusahaan yang pertumbuhannya bergantung pada belanja besar dan pendanaan. Ketika imbal hasil atau biaya pinjaman menjadi perhatian, saham yang dinilai sensitif terhadap suku bunga dapat lebih mudah dijual.

Wall Street memerah, tekanan tak merata

Dalam data penutupan yang disajikan Kumparan berdasarkan Reuters, S&P 500 turun 1,11 persen ke 7.718,94. Nasdaq melemah 1,88 persen ke 26.692,87, sedangkan Dow Jones terkoreksi 0,09 persen ke 51.621,48. Laporan itu menyebut penurunan S&P 500 sebagai yang terbesar sejak akhir Juli.

Sejumlah saham teknologi mencatat kemerosotan lebih dalam daripada indeks utama. Oracle turun 8,8 persen dan CoreWeave merosot 15 persen. Dell terkoreksi 11,4 persen, sementara HPE turun 8,2 persen setelah Barclays menurunkan rekomendasinya, menurut laporan yang sama.

Indeks Semikonduktor Philadelphia juga melemah 4,3 persen. Pergerakan ini menunjukkan tekanan tidak hanya menyasar satu perusahaan, tetapi menjalar ke saham-saham terkait perangkat keras dan semikonduktor yang menjadi bagian dari rantai pasok komputasi AI.

Namun, pasar tidak bergerak seragam. Apple justru naik 0,5 persen dan, menurut Kumparan, kapitalisasi pasarnya melampaui USD 5 triliun untuk pertama kalinya. Bending Spoons melonjak 41 persen setelah menerima pendanaan USD 330 juta dari Berkshire Hathaway. Kinerja yang berbeda ini menegaskan bahwa aksi jual lebih kuat pada sejumlah saham teknologi tertentu, bukan pada seluruh emiten tanpa kecuali.

Dampak pasar bergantung pada arah inflasi

Bagi investor, kombinasi inflasi yang lebih tinggi dan saham AI yang melemah memperbesar perhatian terhadap arah kebijakan suku bunga.

Jika tekanan harga membuat pasar memperkirakan biaya pinjaman tetap tinggi atau meningkat, valuasi perusahaan yang bergantung pada investasi besar dapat kembali diuji.

Pergerakan satu sesi belum memastikan arah jangka panjang, tetapi perubahan ekspektasi suku bunga sudah menjadi faktor yang dipantau.

Bagi pembaca di Indonesia, gejolak Wall Street memberi gambaran tentang bagaimana data ekonomi AS dapat memengaruhi sentimen terhadap saham teknologi global. Dampaknya tidak otomatis sama pada setiap pasar atau perusahaan, tetapi investor lokal yang mengikuti emiten teknologi dan rantai pasok semikonduktor perlu mencermati perubahan sentimen serta kabar kebijakan moneter AS.

Perhatian pasar berikutnya tertuju pada data ekonomi AS dan sinyal Federal Reserve. Sampai ada perkembangan baru, pelaku pasar akan terus menguji apakah kenaikan inflasi September hanya memicu perubahan ekspektasi sesaat atau mengubah perkiraan jalur suku bunga.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair