JAKARTA — Rupiah melemah 35 poin atau 0,20 persen ke Rp17.938 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya Rp17.903. Penguatan dolar AS dan ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang ketat menekan mata uang Indonesia.
Pelemahan ini terjadi saat data penjualan eceran Indonesia menunjukkan konsumsi domestik masih terjaga. Namun, pergerakan modal asing dan kebutuhan valuta asing tetap menjadi perhatian pasar karena dapat memengaruhi permintaan serta penawaran dolar AS di dalam negeri.
Rupiah melemah saat dolar menguat
Muhammad Amru Syifa, Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), mengatakan pergerakan rupiah masih dipengaruhi langkah stabilisasi Bank Indonesia dan perkembangan fundamental ekonomi nasional.
“Penjualan eceran Agustus tumbuh 1,3 persen secara tahunan, meningkat dari 1,1 persen pada Juli, sementara penjualan eceran September diprakirakan tumbuh 1,4 persen,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Angka tersebut memberi gambaran bahwa belanja masyarakat masih bertahan. Tetapi dukungan konsumsi domestik belum menghapus tekanan dari luar negeri. Pelaku pasar juga mencermati arus modal asing dan kebutuhan valuta asing, dua hal yang ikut membentuk keseimbangan permintaan dan penawaran dolar AS.
Tekanannya terasa. Dolar AS menguat setelah inflasi Amerika Serikat pada September 2026 naik menjadi 3,7 persen secara tahunan, dari 3,4 persen pada Agustus.
Kenaikan inflasi itu memperkuat perkiraan pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat, The Fed, akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Pasar juga membuka kemungkinan suku bunga kembali naik.
JISDOR ikut bergerak melemah
Amru menilai kondisi tersebut berpotensi mengarahkan aliran modal ke aset berdenominasi dolar AS. Dampaknya, ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, dapat terbatas.
“Kondisi ini berpotensi mendorong aliran modal menuju aset berdenominasi dolar AS dan membatasi penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” ungkap Amru.
Bagi pelaku usaha dan masyarakat yang memiliki kebutuhan pembayaran dalam dolar AS, pelemahan rupiah berarti nilai rupiah yang diperlukan untuk membeli dolar bertambah dibandingkan penutupan sebelumnya. Pergerakan kurs juga menjadi perhatian bagi pihak yang bergantung pada valuta asing, sementara data penjualan eceran memberi petunjuk tentang daya tahan konsumsi dalam negeri.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama turut melemah. JISDOR berada di Rp17.948 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.898 per dolar AS.
Data dan keterangan dalam laporan ini bersumber dari ANTARA. Pada penutupan perdagangan Kamis, rupiah tercatat di Rp17.938 per dolar AS.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.