Namun, bahan sumber tidak merinci prosedur pemulihan, mekanisme pengelolaan akses, atau hasil pengujian layanan. Bagi calon pelanggan, rincian itu akan menentukan apakah penyimpanan DNA cocok untuk kebutuhan operasional, bukan hanya sebagai teknologi baru.
Masih tahap awal.
Dari riset DNA ke layanan komersial
Biomemory meluncurkan DNA Shield setelah mengakuisisi Catalog Technologies, perusahaan rintisan penyimpanan DNA yang berbasis di Boston, pada Maret 2026. Perusahaan menyebut layanan ini sebagai langkah dari pembuktian sains menuju produk komersial. Untuk saat ini, akses hanya tersedia melalui sejumlah proyek percontohan.
Laurent Guengant, CEO Biomemory, mengatakan: “DNA Shield adalah momen ketika Biomemory beralih dari membuktikan sains menjadi menghadirkan produk komersial.” Ia menyebut organisasi membutuhkan tempat untuk menyimpan aset digital paling penting yang tidak bergantung pada satu vendor, layanan cloud, atau sistem.
Vincent Franceschini, Wakil Presiden Manajemen Produk Biomemory sekaligus wakil ketua DNA Data Storage Alliance, mengatakan layanan ini memakai platform molekuler yang telah dikembangkan perusahaan. Menurut dia, tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh proses, dari pengodean sampai pemulihan yang sah, dapat diandalkan pelanggan dalam penggunaan operasional.
Organisasi yang berminat dapat mengajukan akses awal langsung kepada Biomemory. Setelah periode uji coba yang dijadwalkan berlangsung dari 15 Oktober 2026 hingga pertengahan 2027, perusahaan memperkirakan layanan penuh akan berlanjut. Guengant menegaskan kebutuhan utamanya adalah menjaga aset penting tetap tersimpan dan dapat dibuktikan berfungsi dalam jangka panjang.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.